Category Archives: [Backpack Series]

Trip Jepang – Pergi ke Jepang Gampang

Gion
Gion

Pergi pertama kali ke negara baru tentunya bikin kita bersemangat sekaligus bisa jadi ada juga rasa “deg-degan” terlebih jika belum ada teman seperjalanan yang pernah ke negara tersebut. Tentu kita akan mencari sebanyak mungkin informasi dari internet atau bertanya kepada kenalan-kenalan kita yang pernah ke negara tersebut. Namun, pada akhirnya tetap aja rasa khawatir itu pasti ada. Jepang, sebuah negara maju yang belum lama ini saya kunjungi bersama istri dan teman-teman. Banyak hal yang dapat dipelajari di kunjungan pertama kali saya ke Jepang. Berikut beberapa persiapan yang sebaiknya kita persiapkan jika kita pergi ke Jepang.
Continue reading Trip Jepang – Pergi ke Jepang Gampang

[Backpack Series – Part 5] Jadi Travel Blogger Lebih Dari Sekedar Menulis

andre-hSalah satu konsekuensi menjadi seorang yang suka dolan dan nulls adalah seringnya teman dan keluarga yang menyakan beberapa pertanyaan yang sering sama: “Kapan pergi lagi?”, “Berikutnya mau jalan kemana?”, “Habis dari mana lagi?” dan sebagainya. Memang pertanyaan-pertanyaan itu adalah salah satu akibat dari hobby dolan yang memang saya sukai *akibat lain adalah keluhan karena duit berkurang sehabis jalan-jalan… :). Namun, tahukah Anda jika dilihat lebih dekat lagi maka menjadi travel blogger itu lebih dari sekedar jalan ke tempat baru, upload foto di media sosial dan menulis entry blog seakan-akan mau pamer “andre was here” 🙂 Menjadi travel blogger profesional adalah menyoal tentang bagaimana menulis lebih baik dan memberikan referensi buat pembacanya.

Meski tidak dipungkiri memang ada beberapa travel blogger yang lebih ke ahah pamer segala “pencapaian” destinasi yang pernah dikunjunginya. Namun, travel blogger yang profesional tentu menitik beratkan bagaimana tulisan mereka dapat membantu orang lain yang membacanya dan tentunya membuka peluang pekerjaan dari tulisan mereka.

Coba saja kita lihat sebuah blog travel milik seorang yang telah meraih beberapa penghargaan baik nasional maupun internasional di dunia blogging, backpackstory.me, milik Ariev Rahman. Dengan tagline “A serious travel blog” membuktikan memang blog milk Ariev memberikan referensi yang sangat berguna bagi para pembacanya. Mulai dari panduan membuat visa di beberapa negara sampai ke kisah yang bisa mengajarkan kita menghargai yang namanya kasih sayang kepada orang tua.

Atau ada juga blog lain yang diberi nama myfunfoodiary.com milik pasangan Andy dan Mullie yang belum lama ini saya berkenalan ketika kebetulan ada undangan untuk sebuah acara gathering food blogger. Di blog itu, mereka berbagi bantak hal tentang review makanan yang terkadang saya juga menjadikannya referensi ketika ga tau mau makan dimana dan ingin sesuatu yang baru.

Dari entry blog mereka, kita pasti melihat motivasi mereka dalam menulis adalah memang untuk berbagai informasi dan tips yang berguna bagi orang yang membacanya. Dan jika dilihat dari komentar-komentar dari pembacanya, maka kita dapat melihat bagaimana tulisan-tulisan itu menjadi suatu bacaan yang terbuka dan membantu.

Di lain hal menjadi travel blogger juga terkadang mendapatkan endorse dari beberapa produsen elektronik dan yang lain. Terkadang meskipun terlihat kurang objektif tapi blogger yang profesional dapat menempatkan diri dalam mengulas agar tetap objektif dan bukannya menjadi naif untuk menilai subjektif atau bahkan menolak jika tidak sejalan dengan preferensi penulisnya. *menolak kadang sama aja menolak rejeki…hehe

Tentang seseorang yang sering mendapat endorsement ada salah satu rekan saya yang bernama Wira Nurmansyah dengan blog wiranurmansyah.com. Kebetulan rekan satu komunitas saya ini menekuni yang namanya travel photography *lihat aja foto-fotonya keren-keren :)* sehingga beberapa tulisannya juga berisi tentang review kamera atau trik foto yang bisa kita pakai.

Chin Swee Temple
Chin Swee Temple saat cuaca terang sannat bagus buat difoto

Menjadi blogger terkadang bahkan lebih dari sekedar menjadi berguna di bidang yang kita tekuni. Kita bisa juga menjadikan blog kita menjadi inspirasi dan menguatkan orang lain yang membaca tulisan dalam blog itu. Belum lama ini saya membaca entry blog milik eks rekan kerja di kantor lama, Agata Filiana dalam blognya yaitu dreamexplorewander.com. Tulisan itu cukup membuat kaget saya karena saya baru tatu kalau tahun lalu dia diagnosa sakit lymphoma, sebum kanker di nodus limfa. Dari tulisan Agata, dia terus berjuang dan tidak menyerah dengan keadaan yang sama. Tulisan ini pun menjadi satu dukungan juga buat Agata untuk tetap ‘bergerak’ dan untuk ‘tidak diam’. Terus berjuang kawan… Kapan-kapan kita harus kuliner bareng ketika saya dolan ke Jogja.

Banyak penulis-penulis lain yang juga memanfaatkan travel blog mereka untuk mengenalkan daerah yang mungkin jarang didungar oleh orang kebanyakan seperti seseorang yang menyebut dirinya Mas Bolang, Sutiknyo nama aslinya. Dia menulis dan membuat video yang luar biasa melalui travel blognya yang diberi nama lostpacker.com. Dari video dan tulisannya banyak melahirkan inspirasi untuk mengunjungi kota-kota di Indonesia yang mungkin jarang dikunjungi backan oleh warga negara ini *termasuk saya juga pengen banget keliling ke daerah-daerah itu.

Bu Reso - Sweekee
Bu Reso – Sweekee, salah satu kuliner enak di kota Klaten – Jawa Tengah

Menjadi Travel Blogger bukanlah sekedar menulis entry blog tentang tempat yang kita kunjungi. Tapi lebih dari itu travel blog adalah bagaimana kita menjadi pelita bagi orang yang membutuhkan kejelasan saat bepergian dan tak jarang tulisan kita menjadi motivasi bagi orang yang membaca untuk mempunyai semangat hidup baru untuk melihat dunia yang indah ini.

[Backpack Series – Part 4] Kadang Dolan Cukup Ke Tempat Yang Dekat

andre-hKadang kita manusia melewatkan beberapa hal menarik yang terlalu sederhana dan dianggap remeh. Kadang kita fokus ke hal yang besar dan cenderung lebih ruwet dan susah untuk dipikirkan. Travelling juga ada miripnya dengan hal itu. Saya yang kebetulan ‘menabiskan diri’ jadi travel blogger cuma gara-gara suka nulis sempat juga bertanya-tanya dalam hati ketika memulai menulis, “Kira-kira apakah ga pernah habis tuh bahan buat ditulis? Emang ga pernah habis tempat untuk dikunjungi? Bagaimana kalau semua tempat *yang affordable* udah saya kunjungi dan sekarang have no spare money to visit new place?

Namun, pada akhirnya saya sadar bahwa memang keraguan seperti itu akan hilang ketika kita memulainya. Seiring saya sudah memulai menulis mengenai tempat-tempat yang saya kunjungi maka pikiran ini akan terus mencari bagaimana membuat untuk menulis ini long lasting. Saya akhirnya belajar dari mulai menulis beberapa hal yang detil yang bisa dipecah menjadi beberapa artikel dibanding diceritakan secara umum di sebuah artikel. Lalu kemudian hari, saya juga belajar bagaimana akhirnya saya memutuskan bukan cuma menulis tentang tempat wisata tapi juga tempat makan yang menarik. Yang pada akhirnya semua itu ujungnya membuat saya mempunyai banyak materi untuk tetap ‘survive’ menulis tentang apa yang saya lihat, rasakan, makan, minum, hirup dan sebagainya.

Lebih lagi kadang yang namanya tempat dolan buat kita menyegarkan pikiran banyak yang letaknya di sekitar kita. Ambil contoh saja saat ini saya tinggal di sekitaran Jakarta, maka ada banyak tempat yang bisa dikunjungi yang kadang terlewat oleh kita, misal: Taman Bunga Nusantara yang koleksi tanamannya sangat beragam *yang pasti temukan waktu yang pas karena kalau ngga maka kita akan kepanasan ketika berada disana*, tempat lain seperti daerah Pecinan yang kalau diluar negeri dibilang Chinatown yang letaknya di kawasan Glodok – Kota dimana banyak hal menarik yang bisa kita temui dari mulai makanan, vihara yang dengan bebas boleh kita kunjungi untuk mengambil foto, atau ada juga beberapa resto lama yang berada di Jakarta yang sangat rekomen untuk kita kunjungi.

Tempat lain yang bisa kita kunjungi ketika berada di Jakarta dan sekitarnya misal adalah sederetan museum dengan koleksi unik masing-masing misal: Museum Sejarah Jakarta, Museum Prasasti, Museum Nasional, Museum Purna Bakti *yang berisi koleksi barang berseni tinggi dari mantan keluarga Presiden Indonesia kedua atau ada juga museum yang kadang warga sekitarnya tidak pernah tahu bahwa ada museum itu misal Museum Basoeki Abdullah yang adanya di Fatmawati *dimana beberapa teman saya bahkan tidak tahu kalau ada museum di sekitaran Fatmawati.

This slideshow requires JavaScript.

Tempat lain yang rasanya juga warga Jakarta beberapa ada yang belum mengunjunginya adalah Kebun Binatang Ragunan termasuk didalamnya pusat primata Schmutzer yang koleksi primatanya sangat beragam. Mungkin saya akan bertanya, “Berapa dari kita warga sekitaran Jakarta sudah pergi ke kebun binatang Singapore Zoo namun malah belum pernah ke Kebun Binatang Ragunan?”

Travelling kadang tidak perlu selalu yang jauh. Jika kita cukup jeli dan rajin mencari informasi maka ternyata banyak tempat wisata yang dekat dengan tempat tinggal kita yang bisa kita datangi. Sama dengan hidup kadang apa yang berharga buat hidup ternyata cukup sederhana dan dapat kita temukan disekitar kita. Berbagi tawa dengan keluarga atau teman terdekat, menemukan dan melakukan apa yang jadi hobby kita, mengunjungi beberapa tempat yang menambah pengetahuan kita seperti ke museum atau ke tempat baru yang belum pernah kita kunjungi ataupun hanya sekedar mencicipi makanan di resto yang belum pernah dikunjungi… *tetep ujungnya makanan ya kalau saya…hehehe

[Backpack Series – Part 3] Dolan Bersama Teman Selalu Manise

Jalan Jalan Aneh
Jalan Jalan Aneh

Kalau kalian pernah dolan bareng ama teman-teman apalagi yang lumayan dekat kebanyakan akan jadi perjalanan yang seru dan memorable. Mulai dari seseruan di satu tempat baru bareng-bareng apalagi kalau punya hobby yang sama misal sama-sama suka makan maka bisa eksplor berbagai makanan dari tempat baru yang dikunjungi atau buat kalian para wanita yang kumpulannya suka belanja, so bayangin aja kalau dolan bareng ke satu tempat belanja baru yang lagi hits… ga kebayang hebohnya kalian belanja *sementara suami menangis sesenggukan di pojokan kalau suruh bayar…hahaha…

So, saya akan share beberapa pengalaman saya saat dolan bareng ke negara tetangga dan beberapa tempat wisata dalam negeri. Let’s check it out… Continue reading [Backpack Series – Part 3] Dolan Bersama Teman Selalu Manise

[Backpack Series – Part 2] Setiap Perjalanan Pasti Ada Sedikit Rencana

Saya adalah orang yang tidak percaya jika ada traveller yang bilang kalau dia tidak perlu perencanaan ketika sedang dolan ke satu tempat apalagi tempat asing yang baru kali pertama di datangi. Getting lost saat travelling memang seru dan saya pun juga suka getting lost yang terkadang berujung pada menemukan tempat baru yang jarang dikunjungi turis pada umumnya.

Pernah ketika saya dan rombongan akan berangkat dari Pattaya ke Bangkok, kami bingung akan makan siang dimana akhirnya kami makan disebuah restoran Italia yang sederhana namun ternyata rasa makanannya otentik Italia banget. Resto yang bernama Valentino Italian Thai ini pemiliknya asli orang Italia yang sudah lama tinggal di Pattaya. Sambutan yang ramah dari sang pemilik akhirnya berujung ke berbagi kisah bagaimana dia akhirnya memutuskan tinggal di Pattaya dan mengelola guest house yang berada dalam satu area dengan resto tersebut.

Pengalaman lain yang pernah saya alami adalah ketika berada di Seoul, Korea. Waktu itu saya menginap di sebuah hotel yang berdekatan dengan Seoul Station, sebuah stasiun kereta bawah tanah di pusat kota Seoul. Pada hari sebelumnya, tour guide kami menginformasikan bahwa di Seoul Station ketika malam hari akan dipenuhi oleh para pengemis yang tidur di sepanjang lorong stasiun. Malam itu kami habis berbelanja di daerah Myeong Dong dan berhubung hujan terus turun saya memutuskan untuk naik kereta bawah tanah yang pintu masuknya tidak jauh dari area Myeong Dong. Kereta bawah tanah yang akan kami pakai akan langsung mengantarkan kami ke Seoul Station yang hanya berjarak 200 meter dari hotel tempat kami menginap. Namun, berhubung kurangnya informasi saat itu maka kami baru tahu jika jarak menuju stasiun kereta bawah tanahnya sangat jauh. Akhirnya kami pun naik kereta bawah tanah dan turun di Seoul Station. Dan benar saja ketika menuju ke pintu keluar stasiun, maka kami melihat banyak sekali pengemis yang tidur di sepanjang lorong stasiun dengan beralaskan koran atau tikar. Pengalaman yang tidak akan dilupakan melihat sisi lain kota Seoul yang sudah sangat maju.

Marina Barrage
Marina Barrage

Bepergian tanpa adanya rencana berarti kita membatasi diri kita untuk bepergian tanpa menggubris informasi yang terkadang penting untuk diketahui oleh kita. Seperti yang saya kisahkan diatas, mungkin dengan informasi yang lebih banyak maka kami tidak perlu membuang waktu berjalan cukup jauh menuju stasiun kereta bawah tanah di area Myeong Dong.

Ada juga pengalaman ketika berkunjung ke Singapura tepatnya ke Marina Barrage untuk pertama kalinya. Setelah puas melihat Marina Barrage dan beristirahat di rooftop Marina Barrage yang memiliki pemandangan yang luar biasa indah, kala itu saya dan istri ingin ke Garden By The Bay. Berhubung belum tahu kalau ada jalan tembus di bagian belakang Marina Barrage untuk ke Garden By The Bay maka saya menggunakan bus umum dimana kami berhenti di pemberhentian kedua yang jaraknya cukup dekat dengan halte Marina Barrage. Pada kunjungan yang berikutnya akhirnya kami tahu ada jalan tembus yang dapat kami tempuh tanpa harus mengeluarkan uang untuk menggunakan bus umum.

Sama seperti kehidupan sehari-hari, seseorang membutuhkan rencana ketika akan pergi ke suatu tempat. Biasanya saya akan mencari pertama kali adalah tempat makan yang otentik dan enak di tempat itu dimana saja… hehe… selanjutnya akan saya cari tips perjalanan, do and don’t di tempat tersebut, tempat wisata apa saja yang ada disana dan yang terpenting angkutan umum yang akan dipakai baik menuju atau kembali dari suatu tempat yang baru. Buat saya pribadi walaupun saya sudah mengenal daerah tersebut biasanya saya akan tetap mencari informasi terbaru karena barangkali ada tempat tujuan baru yang asik buat dikunjungi. Seperti ketika saya secara rutin pulang ke Kota Klaten di Jawa Tengah, saya akan mencari di internet ada tempat makan baru apa atau ada tempat wisata yang baru hits saat saya datang.

Namun, tentunya kita tidak boleh kaku dan sangat detil mencari informasi mengenai satu tempat karena akan membuat kita ‘sudah tahu’ akan tempat itu. Kita seakan sudah ‘tahu’ dimana ada apa di tempat itu yang akhirnya bukan lagi menjadi ‘surprise’ ketika kita berada disana.

Jadi rencanakan baik-baik ketika kita akan bepergian. Cukup informasi akan menolong kita untuk lebih menikmati perjalanan kita. Persiapan yang cukup dan tidak berlebihan akan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Dan yang terpenting jangan menjadi sombong ketika kita terbiasa getting lost karena kadang ketika getting lost sebenarnya kita terlalu jauh tersesat dan akhirnya melewatkan beberapa hal yang harusnya bisa kita lihat.

Dan sama seperti perencanaan perjalanan, maka kehidupan sehari-hari juga butuh sedikit rencana agar kita at least tidak terlalu tersesat ketika harus getting lost di kehidupan sehari-hari… *tinggi amat ya bahasa gw… minum obat dulu ah… mungkin otak lagi bener kali ini… hahaha… Enjoy your itinerary…

[Backpack Series – Part 1] Lihat Duniamu!

On the Top
On the Top – Mount Seorak

Changi, 2012 – Kali pertama kaki ini menjejak tanah asing negeri orang lain, Singapura. Langkah kaki menyusuri koridor berkarpet empuk salah satu bandara terbaik dunia, Changi International Airport. Langkah kecil yang membawaku ke semua ‘kecanduan’ akan travelling dan menulis. Langkah kecil yang membawa keinginan untuk selalu eksplor tempat baru selain hanya menjalani kerjaan sehari-hari di Jakarta. Langkah awal yang penuh dengan rasa ingin tahu yang tinggi dan bercampur perasaan khawatir juga. Ada rasa ragu apakah bisa bicara bahasa Inggris selama hampir seminggu berada disana, ragu uang yang dibawa cukup atau ngga, ragu keluarga bakal suka ga dolan kesana karena ini pertama kalinya sekeluarga dolan ke Singapura, ada rasa ingin tahu negara yang dikatakan salah satu negara yang sangat berbeda dengan Indonesia, rasa ingin tahu seperti apa kehidupan disana, rasa ingin tahu buat naik MRT untuk pertama kalinya dan lain-lain. Terdengar lucu dan biasa malah cenderung ‘katrok’ memang jika dibahas di masa sekarang. Namun, kala itu travelling belumlah menjadi salah satu kebutuhan pokok seperti saat ini. Travelling kala itu baru di tahapan awal menjadi sebuah gaya hidup masyarakat modern.  Continue reading [Backpack Series – Part 1] Lihat Duniamu!