Chatunchak Market
Bangkok,  Thailand

Itinerary Bangkok – Capitol of Thailand (1/2)

Market
Market

Hai, selamat datang di tahun 2014. Tahun yang baru berarti perjalanan yang baru. Di awal tahun ini saya berkesempatan mengunjungi negeri tetangga kita di ASEAN, negara gajah putih, Siam atau Thailand. Tepatnya saya mengeksplor dua kota yaitu Bangkok dan Pattaya. Pada perjalanan kali ini, saya menggunakan jasa travel guide freelance rekomendasi dari teman istri dan terbukti menjadi pilihan yang tepat, mengingat di Thailand agak susah berkomunikasi dengan orang lokal karena belum banyak orang yang bisa berbahasa Inggris. Dan berikut adalah itinerary yang saya tempuh selama di negeri ini.

Hari 1 – Don Mueang Airport, Chatuchak (Weekend Market) dan Platinum (Surga Belanja Wanita di Bangkok)

Saya menginjakan kaki di Don Mueang International Airport, Bangkok, jelang siang hari. Bandara lama yang cukup bagus dan sudah direnovasi. Setelah bertemu dengan travel guide saya, perjalanan langsung dilanjutkan menuju Chatuchak (weekend market). Namanya juga weekend market, maka tempat ini hanya buka di hari Sabtu dan Minggu. Chatuchak sendiri merupakan sebuah pasar tradisional yang menjual berbagai barang dengan harga miring, dari mulai kaos murah, souvenir, kemeja, gaun wanita dan lain-lain. Chatuchak juga menjual berbagai macam makanan dari nasi dengan berbagai olahan daging (ayam, sapi sampai dengan pork) serta berbagai cemilan aneh namun enak khas Thailand. Anda juga bisa menemukan berbagai jenis buah segar di Chatuchak dengan harga murah dan kualitas yang bagus serta ukuran Bangkok alias gede.

Setelah menghabiskan sekitar 3 jam di Chatuchak maka kami berlanjut ke arah Platinum Mall yang berada di kawasan Phetcaburi. Platinum Mall sendiri adalah sebuah ITC jika di Jakarta. Banyak kios-kios yang menjual berbagai pakaian yang konon infonya berasal dari Chatuchak. Namun, disini memang menjadi sebuah surga belanja bagi para wanita. Platinum Mall memang dikenal menjual pakaian wanita, dari mulai gaun, kemeja dan jenis lain dengan harga yang jauh lebih murah dari Indonesia dan kualitas yang cukup bagus.

Kala itu, berhubung saya kurang suka berbelanja, akhirnya saya bersama ayah mertua dan saudara sepupu berjalan menuju Pantip Plaza, sebuah pusat elektronik yang cukup besar dan lengkap. Disini Anda bisa menemukan beberapa barang elektronik ternama dari mulai gadget, smartphone dan lain-lain yang mungkin tidak masuk ke Indonesia.

Setelah puas berjalan-jalan, saya berlanjut iseng menuju pusat demonstrasi yang tak jauh dari kawasan Platinum Mall ini. Memang kala itu, saya mendatangi negara ini ketika ada protes keras kepada pemerintah yang sedang berkuasa kala itu. Gerakan demonstrasinya sendiri dinamakan Bangkok Shutdown. Gerakan ini merata di seluruh Bangkok dan para demonstran menutup beberapa jalan utama dan mendirikan panggung besar yang dipakai untuk orasi politik dari para aktifis dan pimpinan demonstran kala itu. Hal positif yang saya rasakan waktu itu adalah para pendemo cenderung tidak anarkis dan jika diperhatikan seksama, banyak diantaranya sudah berusia sekitar 50an keatas.

Perjalanan hari pertama, akhirnya diakhiri dengan makan malam di Platinum Mall dan check-in ke hotel Bangkok Loft Inn. Hotel ini sendiri terletak cukup jauh dari pusat keramaian kota Bangkok yaitu daerah Thon Buri. Bangkok Loft Inn sendiri sebenarnya adalah hotel yang tidak terlalu modern namun nyaman dan bersih.

Hari 2 – Klong Latmayom Floating Market, Maeklong Railway Folding Umbrella Market, Wat Arun, Wat Pho, Asiatique Night Market

Floating Market
Floating Market

Semalam sebelumnya travel guide saya memberitahu bahwa di hari kedua ini kami harus berangkat pagi sekitar jam 7 pagi jika ingin melihat Klong Latmayom Floating Market atau pasar apung karena kalau terlalu siang maka akan terlalu ramai dan kurang nyaman. Dan beruntung buat kami bahwa hotel kami cukup baik menyediakan sarapan pagi yang dibungkus berupa sandwich yummy plus dengan buah plus dengan juice kemasan. Thanks Bangkok Loft Inn.

Sampai di Klong Latmayom Floating Market maka kami harus mengeluarkan uang sebesar 150 bath/orang untuk menyewa perahu yang akan dipakai berkeliling di pasar yang unik ini. Dan benar semua transaksi jual beli cukup unik dilakukan dari atas perahu. Dan untuk memilih kadang barang yang akan kita beli harus menggunakan tongkat. Namun, satu hal yang perlu anda ingat bahwa harga barang di pasar apung ini lebih mahal daripada di tempat lain. Bisa jadi dikarenakan tempat ini cukup komersil untuk turis asing Thailand.

Selepas puas berbelanja di pasar apung, maka kami diajak oleh travel guide kami mengunjungi pasar unik lainnya yaitu Maeklong Railway Folding Umbrella Market. Seperti terjemahannya bahwa memang benar pasar ini berada di tengah-tengah jalur kereta api yang diujungnya berdiri stasiun Maeklong. Yang unik adalah ketika ada kereta yang lewat maka para pedagang di tempat ini akan memasukan dagangan mereka ke kios mereka seolah-olah pasar sudah tutup. Beruntung buat kami mempunyai travel guide yang paham betul jam berapa kereta api akan lewat di tempat itu sehingga kami menyaksikan bagaimana pasar ini ‘tutup’ sejenak. Dan hal ini cukup unik meskipun menurut teman-teman saya di daerah Senen, Jakarta ada tempat yang serupa dengan pasar Maeklong.

Setelah kami menyaksikan hal yang cukup unik ini maka kami kembali ke pusat kota Bangkok untuk makan siang dan kemudian menuju ke Wat Arun, sebuah tempat ibadah di pinggir sungai Chao Phraya. Wat Arun sendiri ada miripnya dengan Borobudur dimana pengunjung harus menaiki tangga batu yang cukup tinggi dan curam. Untuk masuk ke kawasan Wat Arun maka kita harus mengeluarkan biaya sebesar THB 50 / orang. Untuk turis yang pertama kali berkunjung ke Bangkok, tempat ini adalah wajib dikunjungi selain ada Wat Pho, sebuah tempat ibadah di seberang Wat Arun yang disana berdiri sebuah patung Reclining Budha berukuran raksasa yang sangat terkenal dan menjadi sebuah ikon kota Bangkok.

Kami pun harus menyeberang dengan menggunakan feri dengan biaya THB 3 untuk mengatar kami dari Wat Arun menuju ke Wat Pho. Untuk Wat Pho sendiri, kita harus mengeluarkan biaya THB 100 (sebuah harga yang cukup mahal namun worthed for first time visit). Disini kita bisa melihat keindahan patung Reclining Budha yang berukuran raksasa dan konon dilapis emas. Disini Anda dapat berfoto dengan patung tersebut dengan bebas sampai puas.

Asiatique
Asiatique

Puas berkunjung kedua tempat ini, hari telah menjelang sore hari dan semalam sebelumnya ada berita bahwa ada ledakan granat ke arah demonstran. Oleh karena itu, kami pun membatalkan itinerary untuk ke kawasan MBK dan Siam Mall karena tempat itu menjadi salah satu pusat demonstran. Akhirnya untuk hari kedua ini kami menuju salah satu mall baru di Bangkok yaitu Asiatique River Front Night Market. Di karenakan tempat ini adalah night market atau pasar malam, maka Asiatique memang mulai ramai ketika jelang malam hari. Di Asiatique banyak spot foto yang menarik dan tak jarang digunakan untuk sesi pemotretan profesional ataupun pre-wedding.

Dari Asiatique, kaki memutuskan untuk makan malam di dekat hotel dan beristirahat agar tidak kecapean

38 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *