Mini Siam
Bangkok,  Pattaya,  Thailand

Itinerary Bangkok – Capitol of Thailand plus City of Pattaya (2/2)

Grand Palace
Grand Palace

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya berikut adalah Itinerary hari ke 3 sampai hari ke 5 saya di Bangkok dan Pattaya.

Hari 3 – Grand Palace (Istana Raja), Madamme Tussaud, Siam Malls (Siam Discovery, Siam Center, Siam Paragon) dan MBK (Pusat Demonstran Bangkok Shudown)

Di pagi hari ketiga ini, kebetulan saya agak tepar jadi saya memutuskan untuk minum vitamin agar tetap bisa menikmati perjalanan wisata. Di pagi hari ketiga ini, kami langsung menuju ke Grand Palace, sebuah kawasan yang luas yang dulunya dipakai sebagai istana raja lengkap dengan tempat ibadah yang mana kini difungsikan sebagai tempat wisata ikonik dari kota Bangkok bahkan negara Thailand. Ya luas yang saya bilang bermakna bener-bener luas. Grand Palace dipenuhi beberapa bangunan indah nan besar dengan fungsi sendiri-sendiri. Dari mulai tempat ibadah agama Budha sampai museum lengkap semua ada di Grand Palace.

Secara arsitektur Grand Palace sendiri boleh dibilang sangat indah. Mulai dari pembuatan detail ukiran hingga pemasangan kaca di seluruh bagian bangunan, membuat Grand Palace sedap dipandang mata. Dan jangan heran oleh karena itu turis dipatok dengan biaya cukup mahal THB 500.

Di Grand Palace, kita juga bisa melihat sebuah bangunan besar yang dimana patung Emerald Budha (konon ini adalah Budha tertinggi secara tingkatan) ditempatkan. Di dalam bangunan besar ini, hampir seluruh bagian dalamnya dilapis emas dan patung Emerald Budha ini juga ditempatkan disebuah singgasana mewah dannn…. setiap 3 bulan sekali pakaian emas (ya… bener-bener dari emas) yang dipakaikan di Emerald Budha diganti sesuai musim yang sedang terjadi (semi, panas, dingin atau gugur) meskipun di Thailand tidak pernah ada musim semi dan salju yang turun. Di bangunan ini, kita tidak boleh menggunakan kamera. Dan jika ketahuan ama petugas biasanya sih pertama-tama petugas tersebut dengan wajah garang akan mengacungkan jari kearah Anda sebagai peringatan.

Seperti saya informasikan bahwa di Grand Palace memang banyak bangunan dengan berbagai macam fungsi, maka Anda dapat memasuki bangunan-bangunan itu untuk melihat koleksi harta karun atau koleksi museum lainnya.

Puas berkeliling di Grand Palace yang begitu luas, kami pun segera menuju ke Madamme Tussaud yang berada di dalam mall Siam Discovery.

Seperti tulisan saya sebelumnya bahwa kawasan Siam Malls ini adalah salah satu pusat demonstran yang lumayan disorot dan dipublikasikan. Oleh karena itu, dengan segala pertimbangan akhirnya travel guide kami mencarikan jalan tikus untuk sampai ke Siam Discovery ini. Setelah memarkir van, kami pun masuk ke mall Siam Discovery dan menemukan aktifitas sehari-hari tempat ini sama sekali tidak terganggu. Banyak orang datang untuk berjalan-jalan di dalam mall dan tentunya ke Maddame Tussaud, Bangkok yang terkenal.

Madamme Tussaud
Madamme Tussaud

Maddame Tussaud sendiri sebenarnya ada di beberapa negara Asia, namun rasanya yang terdekat dengan Indonesia adalah di Bangkok. Maddame Tussaud sendiri adalah sebuah galeri dari patung-patung lilin yang sangat mirip dengan orang aslinya. Para profesional pematung lilin membuat patung orang-orang terkenal, mulai dari politisi, tokoh perdamaian dunia, selebritis Hollywood, olahragawan profesional dan lain-lain, dengan cukup detail dan mendekati aslinya.

Untuk masuk ke dalam Maddame Tussaud sendiri kali ini istri saya sudah membelikan tiket jauh-jauh hari melalui internet. Dan untuk mendapatkan harga tiket separuh harga maka kita harus membeli tiket yang mewajibkan kita datang sebelum pukul 12 siang. Waktu itu harga tiketnya sekitar THB 400 (discounted price ya ini).

Di dalam Maddame Tussaud, Anda bebas untuk berfoto sepuasnya dengan idola Anda. Tips dari saya adalah pakailah pakaian yang rapi dan bagus untuk berfoto dengan patung lilin Maddame Tussaud agar Anda ga kebanting-banting amat dengan kostum dari si patung lilin itu sendiri.

Kunjungan di Maddame Tussaud ini mungkin sekitar 1,5 jam lalu kami pun berlanjut untuk melihat-lihat kawasan mall mulai dari Siam Discovery, Siam Center lalu Siam Paragon. Secara bertingkat sesuai urutan tadi barang yang dijual pun semakin luxurious dan makin mahal. Namun, berdasarkan info dari ipar saya, untuk pakaian wanita tidak ada yang mengalahkan Platinum Mall untuk segi harga dengan kualitas yang cukup bagus.

Kira-kira hari itu sudah menunjukan pukul 4 sore, dimana kami sudah janjian dengan travel guide kami akan pulang ke hotel pada pukul 6 sore karena esok harinya kami akan berangkat ke Pattaya yang jaraknya kira-kira 2 jam perjalanan lewat tol (sekitar 200 km). Karena penasaran dan sekaligus melihat keadaan yang cukup aman di sekitar kawasan Siam Malls maka saya memutuskan untuk mengajak rombongan melewati kerumunan demonstran untuk menuju ke MBK Mall yang ada di seberang Siam Malls. Dan benar akses termudah untuk menuju ke MBK Mall hanya bisa dengan cara melewati kerumunan demonstran. Akses melalui jembatan penyebrangan sudah di tutup oleh para pendemo. Akses lain kala itu melalui BTS (kereta MRTnya Bangkok) namun agak ribet dan harus keluar biaya lagi. Karena kami nekat menerobos kerumunan, maka kami pun akhirnya malah sempat berfoto di tengah-tengah kerumunan pendemo. Dan menjadi pengalaman tersendiri buat kami.

MBK Mall atau Mahboonkrong sendiri adalah sebuah ITC yang dipenuhi oleh kios-kios yang menjual dari mulai baju sampai barang elektronik. Dan sama dengan kawasan Siam, aktifitas jual beli disini berjalan normal dan tidak terganggu dengan demonstran yang berkumpul cukup banyak di depan MBK Mall ini.

Kami berkeliling kesana kemari dan membeli beberapa oleh-oleh untuk keluarga di Indonesia berupa makanan ringan dengan harga yang cukup murah. Untuk barang elektronik sendiri sebenarnya tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, namun jenis barang elektronik yang dijual di Thailand sepertinya lebih beragam daripada yang dijual di Indonesia.

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 5.30 dan akhirnya kamipun kembali ke Siam Discovery. Kami menempuh jalur yang sama dengan ketika kami menuju MBK Mall yaitu melalui pusat demonstran. Namun, syukur bahwa tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dan akhirnya kami pun kembali ke hotel untuk beristirahat dan esok harinya kami berangkat menuju Pattaya.

Hari 4 – Mini Siam, Big Bee Farm, Khao Chi Chan, Nong Nooch Village, Tiffany Show dan Big Eye Show, Pattaya

Mini Siam
Mini Siam

Pagi-pagi setelah sarapan kami berangkat menuju ke Pattaya. Perjalanan ke Pattaya kira-kira sekitar 2 jam perjalanan melalui tol. Hal menarik dengan perjalanan ini adalah Bangkok mempunyai banyak jalan yang membuat kemacetan lumayan terurai. Kami melihat banyak jalan layang lengkap dengan persimpangannya sepanjang perjalanan kami menuju ke Pattaya.

Setelah sempat kami mampir sebentar di salah satu SPBU untuk beristirahat, kami pun memasuki kota Pattaya sekitar jelang siang hari. Tujuan pertama kami di kota Pattaya adalah Mini Siam, sebuah kawasan yang cukup luas dipenuhi dengan miniatur-miniatur indah dari bangunan yang terkenal di dunia dan di Thailand. Untuk masuk Mini Siam, kita dikenakan biaya sebesar THB 300, tapi percayalah worth it kok. Kita bisa berfoto-foto dengan puas ataupun menikmati keindahan detail dari miniatur-miniatur bangunan yang dibuat

Setelah kami puas berfoto-foto di Mini Siam, travel guide kami mengarahkan kami untuk berkunjung ke pengolahan hasil ternak lebah. Jangan heran kalau tempat ini menjadi tempat wajib yang dimasukkan oleh travel guide karena biasanya beberapa tempat memberikan voucher bahan bakar mobil kepada travel guide yang dimanfaatkan untuk menghemat pengeluaran bahan bakar. Kami pun sebenarnya mengetahuinya namun sudahlah kami mengikuti untuk menikmati tempat baru ini.

Big Bee Farm, Pattaya adalah tempt pengolahan dari hasil ternak lebah yang ada di utara Thailand. Disini dijual berbagai hasil ternak lebah seperti madu, bee polen, royal jelly, coklat dan lain-lain. Setiap pengunjung disini biasanya begitu sampai maka akan digiring ke suatu ruangan di dampingi karyawan disana yang bisa berbahasa ibu dari pengunjung untuk menjelaskan produk-produk hasil olahan beserta khasiatnya. Dan for somehow kami pun terpengaruh untuk membeli mengingat manfaat yang ditawarkan dari produk tersebut… haha. (jago tuh engkoh engkoh yang nawarin)

Dari Big Bee Farm kami melanjutkan ke Nong Nooch Village. Beruntung buat kami karena jalur menuju Nong Nooch Village melalui tempat yang namanya Khao Chi Chan, sebuah tempat dimana lereng bukitnya di ukir menggunakan laser dan unsur emas menjadi sebuah gambar Budha yang memenuhi lereng bukit tersebut. Indah dan magnificent. Kami pun berfoto sebentar lalu melanjutkan perjalanan menuju Nong Nooch Village.

Noong Nooch
Noong Nooch

Sesampainya di Nong Nooch Village kami diturunkan tepat di depan Nong Nooch Garden, sebuah taman yang indah dan unik karena dipenuhi dengan clay pot yang dibentuk menjadi beberapa bentuk unik seperti truk, tuk-tuk (kendaraan tradisional Thailand mirip dengan bajaj) dan lain-lain. O ya untuk masuk ke Nong Nooch Village ini kita harus membayar lumayan mahal THB 500 per orang. Tapi kembali lagi, untuk kunjungan pertama kali rasanya bolehlah.

Nong Nooch Village sebenarnya cukup luas dan banyak atraksi di dalamnya. Namun, kala itu kami hanya menikmati pertunjukan tarian Thailand, pertunjukan kick boxing ala Thailand dan pertunjukan gajah yang biayanya all-in dari tiket masuk Nong Nooch Village ini. Kami tidak cukup lama disini karena kami akan segera melihat show cabaret di Tiffany Show.

Setelah quick check-in (alias taruh tas dan koper dikamar lalu jalan lagi) kami menuju ke Tiffany Show yang terkenal itu. Tiffany Show adalah sebuah pertunjukan kabaret profesional yang keren. Dan… pemainnya adalah lady boy kebanyakan (yap ladyboy a.k.a cowo kewanita-wanitaan alias banci). Namun, jangan bayangkan banci dengan wajah yang masih cowo banget. Banci disana kebanyakan sudah menjalani beberapa operasi (wajah, buah dada, kulit dan lain-lain) sehingga terlihat memiliki tubuh wanita dan terkadang beberapa berparas cantik (katanya beberapa ada yang lebih cantik daripada wanita tulen). But anyway, buat saya Tiffany Show adalah pertunjukan yang keren (yap…really keren) karena dari kostum, koreografi dan panggung boleh dibilang sangat profesional.

Seusai nonton pertunjukannya biasanya banci-banci tercantik mereka akan ramai-ramai menunggu Anda di luar gedung untuk berfoto dengan Anda. Berfoto dengan imbal biaya tentunya (minimal donasinya adalah THB 40). Istri saya akhirnya berfoto dengan salah satu banci yang cantik itu.

Tiffany Show
Tiffany Show

Lepas dari Tiffany Show maka kami pun makan malam di pinggir pantai yang kala itu anginnya cukup kencang dan dingin. Saya tidak begitu ingat nama restonya namun yang pasti harganya agak mahal meski rasanya cukup enak.

Setelah kenyang dengan makan malam kala itu, maka saya dan istri berpisah dengan rombongan untuk melihat pertunjukan lain yang terbilang ekstrim yaitu Big Eye Show. Di pertunjukan ini Anda sama sekali tidak boleh membawa kamera atau handphone. Pihak pengelola sudah menyiapkan loker-loker penyimpanan di samping pintu masuk dan jika Anda ketahuan di dalam pertunjukan merekam atau sekedar mengaktifkan handphone Anda maka Anda akan di denda THB 5,000. Tentunya Anda penasaran pertunjukan apa yang begitu rahasia dan banyak limitasinya ini.

Big Eye Show adalah pertunjukan khusus dewasa dimana sudah menjadi wisata alternatif turis-turis ketika berkunjung ke Pattaya. Disini Anda akan disuguhkan pertunjukan hubungan badan antara pria-wanita ataupun pria-ladyboy. Dan ada juga pertunjukan dimana pria menggunakan ‘his thing’ untuk menabuh kendang kecil di depan mata Anda langsung (yap live in front of your eyes karena dia mendatangi kursi-kursi penonton). Ataupun pertunjukan lain dimana wanita bisa menembakan (garis bawah menembakan) bola ping pong dari ‘her thing’. Cukup ekstrim pokoknya tapi kalau ga nonton ga af-dol katanya kalau sudah sampai di Pattaya. Namun, konon ada tempat yang berdekatan dengan Big Eye show ini yang menyuguhkan tontonan yang mirip dengan lebih ekstrim. Menurut cerita teman, Anda akan masuk ke sebuah ruangan mirip bar ala barat dan duduk dan di depan Anda ada jalur catwalk dan pertunjukan dilakukan disitu. O ya, Big Eye Show – Pattaya ini memiliki official website yang Anda dengan mudah temukan di internet.

Setelah melihat Big Eye Show, saya dan istri kembali ke Ibis Hotel – Pattaya untuk beristirahat.

Hari 5 – Pantai Pattaya, Gems Gallery, Valentino 46 Resto, Mega Bang Na (IKEA) dan pulang ke Indonesia

Di hari kelima ini kami pagi-pagi mengunjungi pantai Pattaya yang bersih dan waktu itu anginnya kenceng dan dingin. Setelah berfoto-foto sebentar maka kami lanjut menuju Gems Gallery yang menjual berbagai batu mulia dan perhiasan. Di Gems Gallery, Anda biasanya akan diminta mengikuti wahana tour yang menjelaskan bagaimana batu mulia itu diolah. Dan sama seperti Big Bee Farm, tempat ini juga merupakan tempat yang biasanya wajib dikunjungi agar travel guide mendapatkan voucher bahan bakar. Bagi kita sendiri, masuk kedua tempat tadi tidak dipungut biaya dan Anda tidak harus membeli barang yang ada disana.

Jelang siang hari kami memutuskan untuk makan siang di sebuah resto otentik Italia yang dimiliki oleh Mr. Riccardo Neri. Resto Italia ini bernama Valentino 46 (yap sang pemilik nge fans ama Valentino Rossi dan suka banget ama dunia balap dimana dapat dilihat dari piala-piala kejuaraan balap yang dipampang). Resto ini sendiri berbentuk rumah yang hommy. Dan disini juga ada guesthouse (full AC, air panas, dll) yang cukup murah THB 700 per malam.

Setelah makan siang, kami memutuskan untuk segera kembali ke Bangkok karena semalam diumumkan bahwa pemerintah setempat menerapkan martial law di Bangkok dan sekitarnya. Martial law ini berarti bahwa pemerintah berhak menangkap dan memenjarakan pihak-pihak yang dinilai mengancam keamanan di Bangkok tanpa melalui pemeriksaan ataupun persidangan.

Beruntung buat kami karena kami masih sempat ke Mega Bang Na, sebuah mall di pinggiran kota Bangkok dimana di dalamnya ada IKEA Dept. Store. Puas berkeliling di dalam Mega Bang Na, kami pun kembali ke Don Mueang International Airport untuk kembali ke Jakarta.

65 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *