Akhirnya merasakan benua yang baru! Kali ini tepatnya saya pergi ke Melbourne, Australia. Berbekal tiket hasil berburu saat Garuda Indonesia Travel Fair digelar tahun lalu, saya menempuh jarak ribuan kilo menuju Tullamarine International Airport. Pesawat yang saya tumpangi take-off jelang tengah malam dan sampai di Melbourne sekitar pukul 11 siang waktu setempat.

Sebelum berangkat memang kami sudah mencari informasi baik dari saudara, teman maupun online mengenai cuaca di Melbourne di pertengahan Mei ini. Beruntung buat kami, kali ini cuaca di Melbourne sedang tidak terlalu panas dan tidak dingin juga. Hal itu karena di pertengahan Mei, Melbourne sedang mengalami musim gugur.

Penerbangan tak terasa sudah hampir 7 jam dan pilot mendaratkan pesawat dengan lancar di landasan pacu Tullamarine Airport. Sebagai catatan jika pergi ke Australia maka kita perlu ingat untuk mengisikan sebuah formulir untuk memberikan informasi kepada keimigrasian Australia tentang dimana kita tinggal, sampai kapan kita berada di Australia dan apakah kita membawa barang atau uang dengan jumlah melebihi AUD 10,000 yang harus kita deklarasikan. Imigrasi Australia boleh dibilang cukup ketat untuk pengawasan khususnya narkoba dan makanan (seperti daging) atau obat-obatan (khususnya obat-obatan alternatif). Namun, jika kita memang benar tidak membawa barang yang berbahaya maka tidak perlu takut untuk mendeklarasikan (jika diperlukan).

Di kunjungan saya kali ini, saya mendeklarasikan daging dendeng dan abon sapi yang kami bawa untuk saudara yang tinggal di Melbourne. Tidak cukup lama saya ditanya apa isi dari bungkusan dan dari mana saya membeli daging yang saya bawa. Rupanya petugas imigrasi Australia mempunyai sederet daftar jenis makanan yang berasal dari negara tertentu yang dilarang masuk ke Australia. Setelah membalik-balik beberapa daftar, maka petugas pun memperbolehkan saya untuk keluar bandara dan menginjak tanah benua baru, Australia.

Begitu keluar dari gedung airport, angin dingin menyergap badan penuh kesegaran baru. Udara terasa sejuk dan bersih, serta sepanjang mata memandang bandara Tullamarine bersih sekali dan teratur.

Rombongan kami pun menyeberangi jalanan kecil untuk menunggu mobil yang diparkir oleh kakak saya. Sebuah spot foto dengan tulisan Melbourne tak luput dari perhatian kami untuk berfoto semacam pembuktian kami sudah sampai di Melbourne. Agak norak memang tapi yah namanya turis.

Satu hal yang selalu saya sukai ketika mengunjungi daerah baru adalah melihat lingkungan sekitar, bagaimana kehidupan sehari-hari orang disana, bentuk rumah-rumah, arsitektur bangunan-bangunan disana, lalu lintas dan makanan yang dijual di daerah itu. Di perjalanan menuju rumah kakak saya, dapat dilihat kalau peraturan lalu lintas benar-benar ditegakkan. Terdapat rambu untuk menjaga limit maksimum di jalan tol yang meski kosong harus tidak boleh melebihi kecepatan tertentu, ada aturan dimana pejalan kaki bagaimanapun menjadi raja jalanan ketika menyeberang sampai mobil harus berhenti dan memberi jalan, keluar jalan harus berhenti dan memastikan tidak ada kendaraan yang cukup dekat sebelum menyeberang. Hal ini adalah hal baru yang selalu menyenangkan untuk dilihat dan dirasakan secara langsung dan dipelajari untuk memperkaya diri kita.

Di hari pertama, setelah kami memasukkan barang-barang kami ke dalam mobil, maka kami pun meluncur dari bandara Tullamarin menuju ke daerah Springvale. Setelah melewati jalan tol yang lumayan panjang, kota Melbourne terlihat dari kejauhan dengan kemegahan gedung tinggi yang berdiri gagah menjulang. Awalnya saya mengira Melbourne adalah kota yang modern dengan hutan pencakar langit dimana-mana. Tapi ternyata Melbourne dipenuhi dengan bangunan-bangunan kuno di kanan kiri yang terawat dengan baik dan mempesona. Saya pun jatuh cinta pada pandangan pertama dengan kota Melbourne. Sebagai orang yang menyukai fotografi insting saya pun langsung berkata bahwa pada kunjungan saya yang berikutnya rasanya saya harus menghabiskan lebih lama di kota ini karena spot untuk berfotonya banyak sekali dan indah.

Kira-kira 1,5 jam perjalanan yang ditempuh dari bandara Melbourne sampai ke daerah Springvale akhirnya kami pun sampai di rumah dimana nantinya kami akan tinggal selama kunjungan pertama kali kami ke Australia.

Hari 1. Nando’s, Chadstone and Glen Waverley

Di hari pertama kami di Melbourne, kami memutuskan untuk mengeksplor daerah sekitar rumah tempat tinggal kakak saya. Setelah menurunkan semua koper dari mobil dan berberes untuk membuka oleh-oleh kami dari Indonesia, saya pun pergi menuju ke Nando’s Restaurant yang menghidangkan makanan ala Portugal untuk kami dapat makan siang di hari pertama ini. Beruntung buat saya karena kakak ipar bekerja di restaurant ini jadi kami tidak kesulitan memilih menu makanan karena nama dari makanan yang dihidangkan lumayan susah untuk diucapkan orang yang pertama kali ke resto ini. Siang itu kami memesan menu ayam panggang dengan saos BBQ dan ayam panggang masak pedas (hot whole chicken with large peri chips) yang pasti kalau buat saya lebih suka ayam panggang masak saos BBQ karena bumbunya lebih terasa. Ada satu menu lagi yaitu menu nasi semacam nasi kuning tapi ala Portugal yang biasa disebut Paella. Menu nasi kuning ini katanya salah satu menu favorit di Nando’s. Satu hal yang baru juga buat saya kalau di kebanyakan resto di negara bagian Victoria ini kalau kita pergi ke resto maka untuk minum air mineralnya kita dapat minta secara gratis dan yang terpenting boleh refill…. *maklom semacam unta kalau saya minumnya banyak.

Nando's Restaurant
Nando’s Restaurant
Nando's Fried Chicken
Nando’s Grilled Chicken
Nando's Rice Menu
Nando’s Rice Menu Paella

Setelah makan siang maka kami pulang dahulu ke rumah agar orang tua kami dapat beristirahat sedangkan yang muda-muda lanjut untuk pergi ke sebuah mal yang menurut informasi adalah salah satu mal terbesar di negara bagian Victoria yaitu Chadstone Mall.

Di Chadstone Mall, kami sekedar window shopping sampai akhirnya bermuara menikmati secangkir piccolo dan hot flat white nikmat seharga sekitar AUD 4 di Axil Coffee. Tak seperti kebanyakan kopi di Indonesia, di Australia memang lebih banyak memakai jenis kopi robusta yang tidak asam. Selesai menyeruput kopi nikmat maka kami pun kembali window shopping ke toko Daiso dan mengunjungi supermarket local bernama Coles untuk membeli makanan ringan yang tidak ada di Indonesia.

Chadstone Mall
Chadstone Mall
Inside Chadstone Mall
Inside Chadstone Mall

Puas kami berjalan-jalan di Chadstone Mall maka kami pun kelaparan. Tak terasa waktu sudah menujukkan hampir jam 6 malam maka kami pun mencari tempat untuk kami dapat makan malam. Sebagai catatan waktu aktif kebanyakan resto dan toko (khususnya di luar mal) di Australia adalah sampai pukul 5 sore. Lepas pukul 5 sore maka akan lebih sedikit pilihan bagi kita untuk mencari makanan. Dan kali ini pun kami memutuskan untuk makan di daerah Glen Waverley tepatnya di daerah Kingsway dimana terdapat beberapa resto yang kebanyakan adalah resto yang menghidangkan menu Asia.

Daerah Kingsway, Glen Waverley, berupa sebuah jalanan dua arah dibatasi pembatas jalan yang tidak tinggi dengan beberapa lampu penerangan jalan. Di kanan kiri jalanan terdapat deretan bangunan rumah makan mulai dari resto Chinese food, masakan peranakan dan juga ada semacam mall yang lebih tepat dibilang plaza kecil yang di dalamnya juga terdapat beberapa resto.

Malam itu, kami akhirnya memutuskan untuk makan masakan peranakan di resto yang bernama seperti nama jalan yang berada di Kuala Lumpur yaitu Petaling Street. Memang hari itu, hampir seluruh resto di kawasan Kingsway sudah ramai dikunjungi warga yang ingin menyantap makan malam bersama keluarga atau teman.

Resto Petaling Street sendiri sebenarnya sudah ada di beberapa tempat namun yang cukup mengagetkan bahwa menu yang dihidangkan kadang tidak tersedia di setiap resto Petaling Street. Seperti di hari berikutnya ketika saya berkunjung ke resto Petaling Street di tempat yang berbeda, ternyata menu hotplate sapi masak saos mongolia tidak tersedia. Tapi secara overall rasa dari masakan Petaling Street cukup cocok dengan lidah orang Indonesia. *tips yang perlu diingat: beli makanan di Australia terbilang cukup mahal dan kebanyakan satu porsi makanan yang dipesan bisa untuk makan 2-3 orang.

Petaling Street Restaurant
Petaling Street Restaurant
Beef with Mongolian Sauce
Beef with Mongolian Sauce
Kangkung
Kangkung
Pork Claypot
Pork Claypot

Hari 2. Eksplor Melbourne (DFO South Wharf, Crown Casino, Flinders Street, St. Paul Cathedral, Melbourne Central)

Pagi di hari berikutnya di Minggu pagi yang dingin.

Semalam udara Melbourne dan sekitarnya cukup dingin. Satu pengalaman baru kalau alih-alih memasang AC ketika malam hari agar sejuk, justru di Australia, orang sudah terbiasa memasang pemanas ruangan. Sebelumnya saya berpikir dengan badan saya yang cukup… *uhuk … #gempal … maka cukup lemak yang menutupi agar tetap kuat terhadap dingin, tapi nyatanya derajat 10 Celsius masih terasa dingin berlebih buat saya. Tidak terbayang kalau nantinya saya dapat merasakan sebuah kota bersalju. #semoga

Di hari kedua ini kami serombongan bangun pagi untuk makan sarapan di IKEA Springvale. Ternyata warga lokal banyak juga yang makan pagi di resto yang ada di dalam IKEA ini. Menunya pastinya ukuran jumbo buat kami dan bikin kenyang banget. Kentang dengan pilihan antara bacon atau sosis sapi adalah menu andalan disini rupanya. Namun, memang rasanya cukup masuk untuk lidah orang Indonesia.

IKEA Spring Vale
IKEA Springvale
Breakfast with Bacon
Breakfast with Bacon
Breakfast with Sausage
Breakfast with Sausage

Mengunjungi DFO South Wharf yang infonya adalah sebuah factory outlet terbesar di Melbourne yang menjual barang ber-merk dengan harga yang lumayan miring. Dan memang terbukti harganya cukup murah dibanding harga di mall biasa atau lebih lagi kalau dibandingkan dengan harga di Jakarta.

Yarra Promenade
Yarra Promenade
Melbourne Convention and Exhibition Centre
Melbourne Convention and Exhibition Centre
Trem at Melbourne
Tram at Melbourne

Puas berkeliling DFO, perjalanan kami lanjutkan menyusuri tepian Yarra River, melewati bagian belakang dari DFO dimana terdapat sebuah kapal kuno yang direstorasi dan sekarang dijadikan spot berfoto yang ikonik. Terus menyusuri sungai Yarra, kami sampai di Melbourne Convention and Exhibition Centre. Pemandangan di tepian sungai Yarra ini memang indah ketika musim gugur datang. Udara yang sejuk dan pemandangan pepohonan yang daunnya sudah berubah menjadi kemerahan ada pula yang menguning sangat mempesona.

Bangunan Crown Casino akhirnya terlihat dari kejauhan ketika menyusuri sebuah taman di dekat. Orrs Walk. Dari tempat yang sama kami juga dapat melihat tram-tram yang menjadi ciri khas kota Melbourne lalu lalang di jalanan.

Melbourne Trem
Melbourne Tram

Kami pun melanjutkan perjalanan memasuki Crown Casino untuk makan siang dan mengajak orang tua saya melihat kasino di Australia. Disana kami menikmati masakan Asia tentunya karena beberapa pilihan lain yang ada disana adalah masakan ala Vietnam dan juga ala Italia dimana kedua orang tua belum terbiasa dengan rasanya yang cukup berbeda dengan masakan Indonesia.

Kenyang menyantap makan siang kami yaitu nasi plus pork roasted maka kami lanjutkan perjalanan hari itu menuju ke Federation Square yang tepatnya berada di seberang Flinders Street Railways Station. Untuk menuju kesana, kami  harus terlebih dahulu menuju Southern Cross Station yang berukuran sangat besar untuk ukuran stasiun kereta. Lebih dari 4 peron diatas tanah terdapat di Southern Cross Station ini dan ada juga jalur kereta bawah tanah Melbourne yang biasa disebut warga lokal dengan nama Metro.

Berada di Federation Square di hari Minggu rasanya memang pas karena banyak orang yang berkumpul di tempat itu. Dan pastinya dimana orang banyak berkumpul, momen itu adalah yang pas buat mengabadikan melalui fotografi. Dan lebih beruntung lagi, di Federation Square kita dapat melihat dua buah bangunan ikonik yaitu Flinders Street Station dan St. Paul Cathedral.

Parkour at Federation Square
Parkour at Federation Square
St. Paul Cathedral From Federation Square
St. Paul Cathedral From Federation Square
Inside St. Paul Cathedral
Inside St. Paul Cathedral
St. Paul Cathedral
St. Paul Cathedral
Flinders Street Station
Flinders Street Station

Berusia 126 tahun pada tahun 2017 ini, St. Paul Cathedral adalah sebuah gereja Anglican yang masih digunakan sebagai gereja dan juga saksi bisu sejarah kota Melbourne. Kita diperbolehkan memasuki bangunan gereja untuk menikmati keindahan interior gereja dengan bebas tanpa ada biaya.

Kali ini memang adalah pertama kalinya saya masuk ke sebuah bangunan katedral. Dan saya cukup amazed dengan suasana di dalam bangunan ini yang begitu tenang dan syahdu. Tak lupa saya memanjatkan doa saat berada di St. Paul Cathedral.

Setelah puas kami melihat St. Paul Cathedral maka kami menyusuri jalanan sekitar Flinders Street yang dipenuhi oleh musisi jalanan dengan kemampuan bermusik yang cukup baik dan tentunya menghibur. Mungkin di kunjungan berikutnya sepertinya saya akan betah berlama-lama mendengarkan musik yang dimainkan musisi jalanan di tempat ini.

Flinders Street
Flinders Street
Melbourne City
Melbourne City

Perjalanan kami pun berakhir di Melbourne Central yaitu sebuah mall yang dibawahnya terdapat stasiun Metro yang mengantar kami ke tempat mobil kami di parkir. Lalu selanjutnya kami pun pulang ke daerah Spring Vale.

State Library of Victoria
State Library of Victoria

Tak terasa sudah 2 hari kami berada di Australia, sebuah benua baru bagi kami untuk dikunjungi. Tempat yang nyaman dengan udara yang bersih, langit malam yang bertabur bintang dan suasana kota yang tidak terlalu sumpek. Mungkin memang cocok untuk menikmati hari tua nantinya.

Itinerary Melbourne – Hari 1 dan Hari 2

2 thoughts on “Itinerary Melbourne – Hari 1 dan Hari 2

  • May 23, 2017 at 2:18 pm
    Permalink

    Ada enak atau nggaknya, klo kek laki gw pantesnua hidup di indo yg ga ada aturan, yakali sering bgt didenda gegara nyalahin peraturan lalu lintas ?
    Btw ga semua resto sediain still/tap water gratis, ada juga yg kalo bilang water dibawainnya sparkling water dan bayar euy.
    Di Sydney juga ada resto Petaling Street sering ngelewatin kalo mau makan masakan Indo di Kingsford. Entah sama apa ga..

    Reply
    • May 23, 2017 at 2:28 pm
      Permalink

      Kayanya sama deh… yg enak menu claypot porknya ama beef mongolian saucenya

      Reply

Leave Your Commentary

Translate »