Family at William Rickett Sanctuary
Family at William Rickett Sanctuary
It’s the real deal! Setelah dua hari berada di Australia, maka mulai hari ke 3 ini kami benar-benar jalan-jalan dalam arti sebenarnya. Kami pun mengeksplor kota Melbourne dan sekitarnya.

Mulai dari wisata dalam kota dengan mengunjungi berbagai tempat yang biasa didatangi turis sampai mengunjungi Great Ocean Road yang mempesona dengan pemandangan tebing dan padang rumput hijaunya.

Hari ke 3 – Shrine of Remembrance, National Gallery of Victoria dan Melbourne Museum

Pagi itu perjalanan kami mulai dengan naik mobil menuju Springvale Station untuk menaiki Metro, sebutan untuk jaringan kereta listrik kota Melbourne untuk menuju ke tengah kota. Tepatnya kami menuju Flinders Street Station yang dilanjutkan dengan menaiki tram menuju Shrine of Remembrance.

Shrine of Remembrance
Shrine of Remembrance
Shrine of Remembrance adalah sebuah bangunan untuk mengenang jasa warga negara Australia yang mengabdikan diri dalam peperangan yang pernah melibatkan negara ini. Terletak di tengah-tengah taman yang begitu asri dan hijau, Shrine of Remembrance nampak gagah dan menjulang dari kejauhan apalagi karena letaknya yang berada lebih tinggi dari jalan raya dimana tram lalu-lalang.

Parents at the Shrine
Parents at the Shrine
Seperti yang saya tuliskan sebelumnya bahwa Shrine of Remembrance dikelilingi taman yang hijau dan asri telah membuat banyak warga kota terkadang menghabiskan waktu untuk mengajak keluarga, teman atau bahkan binatang peliharaannya untuk berjalan-jalan menikmati sejuknya udara di bulan Mei ini. Sebagai catatan untuk masuk ke bangunan Shrine of Remembrance ini tidak dipungut biaya sama sekali. Namun, terkadang karena merupakan bangunan peringatan bagi para pahlawan, maka beberapa kali ada upacara menghormati jasa pahlawan diadakan di dalamnya. Seperti ketika saya mengunjungi Shrine of Remebrance waktu itu, di dalam bangunan akan segera dilaksanakan sebuah upacara yang tertutup sehingga saya tidak bisa berlama-lama melihat ke dalam bangunan Shrine of Rembrance yang berisi beberapa bendera Australia dari masa ke masa dan beberapa benda peninggalan saat Perang Dunia 1.

Inside the Shrine of Remembrance
Inside the Shrine of Remembrance
Setelah berkeliling dan mengambil foto di Shrine of Remembrance, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju halte tram terdekat untuk kembali menuju arah Flinders Street Station untuk berhenti di halte National Gallery of Victoria.

National Gallery of Victoria
National Gallery of Victoria
National Gallery of Victoria ini terletak di Saint Kilda Road dan berada di area CBD dimana untuk moda transportasi tram tidaklah dipungut biaya alias gratis. Bagi saya bangunan National Gallery of Victoria ini mirip sebuah benteng yang telah disulap menjadi sebuah museum yang di dalamnya terdapat koleksi lukisan dan berbagai barang seni.

Sebenarnya untuk menikmati barang-barang yang dipamerkan di  National Gallery of Victoria ini tidak ada biaya yang dikenakan ke pengunjung. Namun, saat itu sedang berlangsung pameran lukisan karya Van Gogh jadi rasa penasaran saya berujung untuk merogoh kocek sebesar AUD 28 per orang untuk dapat melihat karya seni yang dibuat oleh Van Gogh.

Van Gogh's Painting
Van Gogh’s Painting

Vincent Van Gogh
Vincent Van Gogh
Vincent Van Gogh adalah seorang seniman di era 1800an yang dikenal luas dan mendunia dengan karya lukisan beraliran Post-Impressionist. Permainan warna cerah terkesan gembira dan berani berhasil mencuri perhatian banyak orang yang mengunjungi pameran lukisan waktu itu.

Di National Gallery of Victoria ini juga terdapat beberapa ruangan yang berisikan lukisan-lukisan berukuran raksasa yang begitu indah dan dapat dinikmati secara gratis.

Tak terasa sudah hampir 2 jam saya berada di National Gallery of Victoria dan saya teringat kalau ternyata kami belum makan siang. Oleh karena itu setelah puas menikmati National Gallery of Victoria kami menuju Melbourne Central mall untuk mencari makan siang di food court yang terletak di lantai atas dari Melbourne Central.

Makan siang kali ini saya memilih untuk mencoba Burger McD yang lezat dengan Strawberry Smoothies yang belum ada di Indonesia. Memang selama di Australia, saya cenderung untuk mencicipi menu-menu yang tidak ada di Indonesia. Mulai dari makan di resto-resto fast food yang belum masuk ke Indonesia *yah meskipun fast food memang cenderung kurang sehat kalau keseringan dan pastinya cepat menaikkan berat badan… uhuk… saya naik 2 kg selama di Australia :p , sekaligus saya memcoba beberapa resto yang menghidangkan menu Chinese Food yang lezat-lezat. Yang belum dicoba adalah resto fine dining karena bagaimana mau nyoba resto fine dining kalau makan di resto biasa aja seporsi harganya lebih dari AUD 10 seharga menu fine dining di Indonesia.

Okay, lepas kami selesai menikmati makan siang maka kami pun melanjutkan perjalanan untuk ke Melbourne Museum. Dengan menaiki tram ke arah Melbourne University, kami pun menuju Melbourne Museum.

Melbourne Museum
Melbourne Museum
Melbourne Museum tadinya saya pikir bertempat di sebuah bangunan kuno yang besar dengan detail arsitektur yang keren. Namun, ternyata Melbourne Museum adalah sebuah bangunan modern yang luas dengan dua serambi kiri dan kanan serta mempunyai sebuah hutan buatan yang berada tepat di depan mata saat kita melewati meja registrasi memasuki Melbourne Museum.

Animals at Melbourne Museum
Animals at Melbourne Museum

Inside Melbourne Museum
Inside Melbourne Museum
Melbourne Museum berisikan beberapa ruangan besar dengan beberapa tema mulai dari tema pra-sejarah dimana ada tulang-tulang dinosaurus, tema human body dimana disana diawetkan beberapa bagian tubuh seperti ginjal dan pankreas. Lalu juga ada pula area dengan tema binatang dimana terdapat satu ruangan yang benar-benar penuh dengan binatang-binatang yang sudah mati dan diawetkan mulai dari singa, badak, beruang kutub dan juga kangguru. Secara umum, Melbourne Museum menurut saya adalah tempat yang rekomen untuk dikunjungi karena koleksinya banyak dan memberikan pengetahuan baru buat kita.

Lebih dari 1 jam kami mengeksplor Melbourne Museum sebelum akhirnya kami pulang menuju Springvale Station.

Hari ke 4 – Miss Marple, William Ricketts Sanctuary dan Puffing Billy

Salah satu wisata yang konon wajib dikunjungi ketika berada di Melbourne adalah Puffing Billy, kereta uap kuno yang masih berfungsi dengan baik dan menghidupi warga di sekitarnya. Dan kali ini, kami berkesempatan mencoba menaiki Puffing Billy yang terkenal.

Miss Marple
Miss Marple
Perjalanan pagi hari itu dimulai dengan makan pagi di sebuah resto otentik yang menghidangkan menu scone, waffel dan pancake dengan selai yang enak banget, Miss Marple. Bertempat di sebuah rumah lama dengan desain yang lucu, Miss Marple memang terlihat menonjol daripada bangunan disekitarnya. Yang lebih unik lagi adalah ketika resto ini dibuka maka akan diperdengarkan musik folk di luar resto semacam kalau kita sedang berada di salah satu film kartun Disney. Sedangkan di dalamnya terdapat sebuah perapian yang unik dan membuat suasana menjadi hangat dan ramah.

Scone and Waffel
Scone and Waffel
Kami pun memesan menu scone ala negeri Inggris yang terkenal dan waffel yang dihias indah dan rasanya emang enak banget. So, tidak heran jika Miss Marple ini memang menjadi tujuan wisata kalau orang mengikuti tur di daerah Dandenong. Sekaligus biasanya orang akan dibawa melihat-lihat toko unik yang berada di sebelah Miss Marple yang menjual aneka teh, cangkir teh, mug dan tempat menaruh teh yang unik, dengan warna bright dan cocok buat souvenir jika berkunjung ke daerah Dandenong.

Store near to Miss Marple
Store near to Miss Marple
Setelah rangkaian acara makan pagi maka kami melanjutnya perjalanan menuju William Ricketts Sanctuary yang lebih mirip sebuah kawasan hutan yang dibuka untuk dijadikan sebuah galeri seni dengan tema suku asli Australia yaitu suku Aborigin. Di tempat ini kita dapat melihat dan merasakan ketertarikan William Ricketts dengan suku Aborigin yang diwujudkan dengan patung-patung orang dengan wajah khas orang Aborigin.

William Rickett Sanctuary
William Rickett Sanctuary

Aborigin statue
Aborigin statue
William Ricketts Sanctuary sudah menjadi sebuah tempat wisata ikonik di daerah Mt. Dandenong disamping wisata lain yang begitu terkenal yaitu kereta uap kuno yang diberi nama Puffing Billy.

At Belgrave Station
At Belgrave Station
Puffing Billy dulunya memang difungsikan untuk menghubungkan kota-kota sepanjang rute kereta uap ini yaitu dari Belgrave sampai dengan Gembrook. Dan sekarang kereta uap ini lebih difungsikan untuk keperluan wisata lokal yang dikelola secara swadaya oleh warga sekitar sebagai mata pencaharian tambahan atau bahkan pekerjaan utama dari warga disekitar.

Puffing Billy
Puffing Billy

Yarra Valley
Yarra Valley
Sepanjang rute Puffing Billy ini, kita akan melihat pemandangan hutan-hutan, rumah-rumah warga dengan padang rumput luas sebagai halaman dan pastinya ketika berada di rute Menzies Creek menuju Emerald maka kita dapat melihat lembah Yarra yang begitu indah dari ketinggian.

Dandenong Scenery
Dandenong Scenery

Emerald Station
Emerald Station
Pada perjalanan Puffing Billy kali ini, saya tidak sampai ke stasiun Gembrook karena sudah terlalu sore saat sampai di stasiun Belgrave.  Sebagai bahan pertimbangan ketika ingin merasakan perjalanan dengan Puffing Billy adalah biaya yang harus dikeluarkan. Untuk rute Belgrave – Emerald (p.p), pengunjung dikenakan biaya sekitar IDR 500ribu. Namun, cukup puas menurut saya karena dapat melihat pemandangan yang indah dari ketinggian Mt. Dandenong.

Perjalanan hari ke 4 pun akhirnya berakhir sesampainya kembali kami di stasiun Belgrave untuk menuju rumah kakak saya di Springvale. Kami pun akhirnya beristirahat lebih cepat karena keesokan hari akan menempuh perjalanan cukup jauh untuk menuju salah satu wisata wajib di Australia, Twelve Apostles.

Hari ke 5 – Great Ocean Road, Apollo Bay dan Twelve Apostles

Hari ini kami sekeluarga akan ke luar kota untuk melihat yang sering orang sebut dengan Twelve Apostles.

Penasaran seperti apa Twelve Apostles, akhirnya saya terlalu banyak Googling dan menemukan bahwa Twelve Apostles berjarak 3 jam perjalanan darat dari Springvale. *buset jauh amat ya kaya Jakarta ke Bandung… lalu saya pun mencari tahu ada apa aja disekitar Twelve Apostles mengingat Twelve Apostles sendiri berupa jajaran tebing karang yang dulunya berjumlah 12 seperti banyaknya rasul Yesus. *kini beberapa tebing sudah tergerus ombak laut dan akhirnya tumbang…

Great Ocean Road
Great Ocean Road
Perjalanan pun kami mulai pukul 9 pagi hari melalui tol luar kota Melbourne. Untuk menuju Twelve Apostles ada 2 jalur yaitu melalui jalur tengah melalui kota bernama Colac atau melalui selatan menyusuri jalan raya berkelok-kelok dengan pemandangan samudera sepanjang jalan yang disebut orang sebagai Great Ocean Road.

Seperti namanya, Great Ocean Road memang jalanan dengan pemandangan samudera lepas sepanjang berkilo-kilo. Awalnya terasa menyenangkan melihat jajaran tebing, padang rumput dan lautan lepas. Namun, lama kelamaan rasa mual karena jalan berkelok-kelok membuat beberapa dari kami jadi mabuk darat.

Great Ocean Road Gate
Great Ocean Road Gate
Jalur Great Ocean Road menuju ke Twelve Apostles akan membawa kita melewati beberapa kota ditepi pantai dimana salah satunya adalah Apollo Bay dimana kami memutuskan untuk makan siang disana. Apollo Bay nampak tenang dan tidak terlalu ribut. Kehidupan warga disitu nampak tenang dan melewati hari yang berlalu di sebuah kota yang terletak di sebuah teluk dengan air laut yang tenang. Pemandangan hijau dari bukit-bukit yang mengelilingi Apollo Bay menambah pesona kota untuk saya bermalam jika di masa mendatang saya punya kesempatan mengunjungi kota ini lagi.

Great Ocean
Great Ocean

Apollo Bay
Apollo Bay
Kebingungan mencari makan siang yang cukup terbatas akhirnya kami memutuskan makan di sebuah resto yang menghidangkan menu western seperti fish and chip dan steak. Sekitar 1 jam kami berada di Apollo Bay, perjalanan pun kami lanjutkan untuk menuju ke Twelve Apostles.

Twelve Apostles
Twelve Apostles
Sekitar pukul 2 siang kami sampai di Twelve Apostles, suasana di Twelve Apostles sudah ramai sekali dipenuhi turis kebanyakan dari luar Australia. Pemandangan tebing karang dan lautan yang indah dapat kita nikmati dengan aman karena ditempat itu sudah dibangun jembatan dari kayu dan besi yang dapat dilalui dengan nyaman oleh pengunjung Twelve Apostles. Sesekali terdengar suara helikopter yang memang menawarkan tur melihat Twelve Apostles dari udara. Lepas dari kami berfoto dan menikmati Twelve Apostles kami berpindah ke sebuah pantai bernama Loch Ard Gorge. Pantai yang diberi nama berdasarkan nama kapal yang pernah tenggelam di dekat lepas pantai tersebut berupa sebuah pantai di semacam celuk kecil lautan yang tersembunyi.  Untuk menuju pantainya sendiri terdapat tangga dari kayu untuk menuruni tebing yang cukup tinggi.

Loch Ard Gorge
Loch Ard Gorge
Tak banyak memang rumah penduduk yang berada dekat dengan Twelve Apostles namun diperjalanan pulang, kami menikmati pemandangan indah matahari terbenam diantara padang rumput luas dengan hewan ternak seperti sapi dan domba yang lepas bebas mencari makan di padang rumput yang hijau. Perjalanan pulang kami tempuh melalui jalur tengah melalui kota Colac untuk menuju kembali ke arah kota Melbourne sampai akhirnya sampai juga di Springvale setelah 4 jam perjalanan.

Capek memang perjalanan ke Twelve Apostles tapi berkesempatan menikmati pemandangan tebing berjajar indah di sepanjang Great Ocean Road, menikmati hijaunya padang rumput luas serta hewan ternak yang dilepas bebas jadi pemandangan baru buat saya dan pengalaman tersendiri buat saya. Mungkin lain waktu saya akan ke Great Ocean Road lagi tapi dengan waktu lebih panjang… #amin

Itinerary Melbourne – Hari ke 3 s/d Hari ke 5

2 thoughts on “Itinerary Melbourne – Hari ke 3 s/d Hari ke 5

  • May 27, 2017 at 2:08 pm
    Permalink

    Btw itu ngeliat lukisan Van Gogh harganya $280? Loch Ard Gorge mirip pantai padang2 ye. Btw itu resto biasa sebelah mana yg makanannya $100 seporsi, setau gw yg harganya segituan biasanya yg punya degustation menu (5-7course per meal). Klo resto biasa mah malah murah2 ga nyampe $50 per porsi. Gw waktu itu ga sempet eksplor banyak wong cuma 3 hari 2 malem, itupun si Dennis kebanyakan ngajak berantemnya drpd damainya jd kaga enak jalan2nya hahhaha diberkatilah ci mimir dpt suami kayak elu Ndre yg sama2 tukang jalan *lah malah curhat

    Reply
    • May 27, 2017 at 2:47 pm
      Permalink

      Maap typo harusnya AUD 10 hehehe… keliru sayaahh… hahaha…. yah kita berdua juga kadang berantem kok tapi ya saling ngalah wae… 🙂

      Reply

Leave Your Commentary

Translate »