andre-hSalah satu konsekuensi menjadi seorang yang suka dolan dan nulls adalah seringnya teman dan keluarga yang menyakan beberapa pertanyaan yang sering sama: “Kapan pergi lagi?”, “Berikutnya mau jalan kemana?”, “Habis dari mana lagi?” dan sebagainya. Memang pertanyaan-pertanyaan itu adalah salah satu akibat dari hobby dolan yang memang saya sukai *akibat lain adalah keluhan karena duit berkurang sehabis jalan-jalan… :). Namun, tahukah Anda jika dilihat lebih dekat lagi maka menjadi travel blogger itu lebih dari sekedar jalan ke tempat baru, upload foto di media sosial dan menulis entry blog seakan-akan mau pamer “andre was here” 🙂 Menjadi travel blogger profesional adalah menyoal tentang bagaimana menulis lebih baik dan memberikan referensi buat pembacanya.

Meski tidak dipungkiri memang ada beberapa travel blogger yang lebih ke ahah pamer segala “pencapaian” destinasi yang pernah dikunjunginya. Namun, travel blogger yang profesional tentu menitik beratkan bagaimana tulisan mereka dapat membantu orang lain yang membacanya dan tentunya membuka peluang pekerjaan dari tulisan mereka.

Coba saja kita lihat sebuah blog travel milik seorang yang telah meraih beberapa penghargaan baik nasional maupun internasional di dunia blogging, backpackstory.me, milik Ariev Rahman. Dengan tagline “A serious travel blog” membuktikan memang blog milk Ariev memberikan referensi yang sangat berguna bagi para pembacanya. Mulai dari panduan membuat visa di beberapa negara sampai ke kisah yang bisa mengajarkan kita menghargai yang namanya kasih sayang kepada orang tua.

Atau ada juga blog lain yang diberi nama myfunfoodiary.com milik pasangan Andy dan Mullie yang belum lama ini saya berkenalan ketika kebetulan ada undangan untuk sebuah acara gathering food blogger. Di blog itu, mereka berbagi bantak hal tentang review makanan yang terkadang saya juga menjadikannya referensi ketika ga tau mau makan dimana dan ingin sesuatu yang baru.

Dari entry blog mereka, kita pasti melihat motivasi mereka dalam menulis adalah memang untuk berbagai informasi dan tips yang berguna bagi orang yang membacanya. Dan jika dilihat dari komentar-komentar dari pembacanya, maka kita dapat melihat bagaimana tulisan-tulisan itu menjadi suatu bacaan yang terbuka dan membantu.

Di lain hal menjadi travel blogger juga terkadang mendapatkan endorse dari beberapa produsen elektronik dan yang lain. Terkadang meskipun terlihat kurang objektif tapi blogger yang profesional dapat menempatkan diri dalam mengulas agar tetap objektif dan bukannya menjadi naif untuk menilai subjektif atau bahkan menolak jika tidak sejalan dengan preferensi penulisnya. *menolak kadang sama aja menolak rejeki…hehe

Tentang seseorang yang sering mendapat endorsement ada salah satu rekan saya yang bernama Wira Nurmansyah dengan blog wiranurmansyah.com. Kebetulan rekan satu komunitas saya ini menekuni yang namanya travel photography *lihat aja foto-fotonya keren-keren :)* sehingga beberapa tulisannya juga berisi tentang review kamera atau trik foto yang bisa kita pakai.

Chin Swee Temple
Chin Swee Temple saat cuaca terang sannat bagus buat difoto

Menjadi blogger terkadang bahkan lebih dari sekedar menjadi berguna di bidang yang kita tekuni. Kita bisa juga menjadikan blog kita menjadi inspirasi dan menguatkan orang lain yang membaca tulisan dalam blog itu. Belum lama ini saya membaca entry blog milik eks rekan kerja di kantor lama, Agata Filiana dalam blognya yaitu dreamexplorewander.com. Tulisan itu cukup membuat kaget saya karena saya baru tatu kalau tahun lalu dia diagnosa sakit lymphoma, sebum kanker di nodus limfa. Dari tulisan Agata, dia terus berjuang dan tidak menyerah dengan keadaan yang sama. Tulisan ini pun menjadi satu dukungan juga buat Agata untuk tetap ‘bergerak’ dan untuk ‘tidak diam’. Terus berjuang kawan… Kapan-kapan kita harus kuliner bareng ketika saya dolan ke Jogja.

Banyak penulis-penulis lain yang juga memanfaatkan travel blog mereka untuk mengenalkan daerah yang mungkin jarang didungar oleh orang kebanyakan seperti seseorang yang menyebut dirinya Mas Bolang, Sutiknyo nama aslinya. Dia menulis dan membuat video yang luar biasa melalui travel blognya yang diberi nama lostpacker.com. Dari video dan tulisannya banyak melahirkan inspirasi untuk mengunjungi kota-kota di Indonesia yang mungkin jarang dikunjungi backan oleh warga negara ini *termasuk saya juga pengen banget keliling ke daerah-daerah itu.

Bu Reso - Sweekee
Bu Reso – Sweekee, salah satu kuliner enak di kota Klaten – Jawa Tengah

Menjadi Travel Blogger bukanlah sekedar menulis entry blog tentang tempat yang kita kunjungi. Tapi lebih dari itu travel blog adalah bagaimana kita menjadi pelita bagi orang yang membutuhkan kejelasan saat bepergian dan tak jarang tulisan kita menjadi motivasi bagi orang yang membaca untuk mempunyai semangat hidup baru untuk melihat dunia yang indah ini.

[Backpack Series – Part 5] Jadi Travel Blogger Lebih Dari Sekedar Menulis
Tagged on:

4 thoughts on “[Backpack Series – Part 5] Jadi Travel Blogger Lebih Dari Sekedar Menulis

  • February 8, 2016 at 3:19 pm
    Permalink

    Ya, sepakat. Walau sebenernya tiap orang kan punya gaya ‘pengunggahan cerita trip’ masing-masing ya. Ada yang sekedar ‘aku jalan-jalan lagi nih’, sampai yang diem-diem nyelipin nilai-nilai sosial atau informasi seru buat bikin pembaca makin pinter. Jelas, saya lebih suka sama kelompok yang kedua. Bikin kagum!

    Reply
    • February 8, 2016 at 10:05 pm
      Permalink

      Yupe… Sama dengan mas Iyos

      Reply
  • February 22, 2016 at 1:40 am
    Permalink

    Hehehe sama..banyak orang yg kirim email atau minta nomor telepon sekedar minta bimbingan mau masukin visa, dibikinin itinerary atau cuma tanya2 daerah tempat gw travel (penginapan dll) apalagi bisa dibilang jenis jalan2 gw jalan2 gembel ala backpacker yg pastinya akan lebih masuk ke semua segmentasi

    Reply
  • August 22, 2016 at 4:36 am
    Permalink

    Baru mulai bikin blog traveling awal tahun ini.. semoga nantinya bisa lebih dari sekedar menulis seperti yang diungkapkan mas Andre hehe.. salam kenal mas..

    Reply

Leave Your Commentary

Translate »