Belum lama ini saya kehilangan Engkong, begitu saya biasa memanggil kakek saya yang telah berusia 85 tahun. Seorang yang menurut saya berpikiran lurus, jujur dan cenderung sederhana. Sampai saat ini yang saya tahu, dia tidak pernah mempunyai ambisi berlebih dalam hidupnya. Menjalankan hidup apa adanya dan berpikir sederhana bagaimana untuk tetap dekat dengan keluarga, melindungi anak dan cucu serta mencintai istri.

Konon cerita yang saya dapat adalah pernah satu masa dimana engkong berkesempatan untuk menjadi seorang kaya dengan tetap menjual minyak tanah dan menyimpan sampai harganya naik. Namun, dia tidak mengambil cara itu. Sebagian mungkin berpikir dia takut, namun rasanya dia juga berpikir untuk menjalani hidup dengan cara yang benar. Dan akhirnya dia meneruskan keahliannya dalam bidang pangkas rambut dimana mungkin pada saat saya kecil pelanggannya hampir setengah lebih masyarakat Kota Klaten.

Di hari tuanya, sangat beruntung bagi saya bisa lebih mengenal Engkong secara pribadi. Tak jarang sering saya bercanda dengan dia tentang bagaimana dia terpesona dengan sosok Emak, oma saya, karena kecantikannya. Bagaimana dia mencoba untuk mendekati dan akhirnya menikah. Teringat saya bagaimana Engkong paling suka kalau dipotret. Dan untuk terakhir kalinya begitu saya sampai ke rumah ketika dia sudah tiada, saya langsung berbicara dengan jenazah beliau, “Engkong, foto dulu ya. Kan paling suka Engkong buat difoto.” dan air matapun tak tertahan sementara saya memotret wajah engkong. Air mata yang sama mengucur ketika saya menulis saat ini.

Dan untuk terakhir kalinya ketika Engkong masih hidup saya mengabadikan ketika dia menyanyikan lagu kebangsaan Jepang “Kimigayo” yang selalu diingat oleh Engkong karena di masa mudanya dia bersekolah di tempat dimana tiap pagi lagu itu terus dinyanyikan. Dan di akhir sehabis dia bernyanyi saya selalu melanjutkan wawancara saya mengenai kisah hidupnya di masa mudanya.

Kehilangan saya adalah kehilangan sesosok kakek yang baik, lucu dan sayang dengan keluarganya. Sampai jumpa Engkong di kehidupan berikutnya. Kisah hidupmu akan selalu menjadi kenangan terindah buat kami keluarga yang engkau tinggalkan.

Last Memory of Grandpa
Tagged on:             

2 thoughts on “Last Memory of Grandpa

Leave Your Commentary

Translate »