On the Top
On the Top – Mount Seorak

Changi, 2012 – Kali pertama kaki ini menjejak tanah asing negeri orang lain, Singapura. Langkah kaki menyusuri koridor berkarpet empuk salah satu bandara terbaik dunia, Changi International Airport. Langkah kecil yang membawaku ke semua ‘kecanduan’ akan travelling dan menulis. Langkah kecil yang membawa keinginan untuk selalu eksplor tempat baru selain hanya menjalani kerjaan sehari-hari di Jakarta. Langkah awal yang penuh dengan rasa ingin tahu yang tinggi dan bercampur perasaan khawatir juga. Ada rasa ragu apakah bisa bicara bahasa Inggris selama hampir seminggu berada disana, ragu uang yang dibawa cukup atau ngga, ragu keluarga bakal suka ga dolan kesana karena ini pertama kalinya sekeluarga dolan ke Singapura, ada rasa ingin tahu negara yang dikatakan salah satu negara yang sangat berbeda dengan Indonesia, rasa ingin tahu seperti apa kehidupan disana, rasa ingin tahu buat naik MRT untuk pertama kalinya dan lain-lain. Terdengar lucu dan biasa malah cenderung ‘katrok’ memang jika dibahas di masa sekarang. Namun, kala itu travelling belumlah menjadi salah satu kebutuhan pokok seperti saat ini. Travelling kala itu baru di tahapan awal menjadi sebuah gaya hidup masyarakat modern. 

Jujur di waktu sebelumnya, tidak pernah terpikir bagi saya untuk suka dengan yang namanya dolan atau travelling. Waktu biasa dulu dihabiskan untuk main game di komputer ataupun nonton film di bioskop. Tetapi sejak pengalaman pertama dolan ke Singapura itulah, rasa suka untuk dolan ke tempat baru mulai tumbuh dan akhirnya saya kecanduan akan hal itu. Buat saya yang paling asik saat travelling bukanlah untuk berada di tempat baru lalu mengambil foto selfie atau menuliskannya dalam travel blog pribadi, namun bagaimana saya bisa melihat masyarakat, budaya, keindahan alam dan bangunan di tempat yang saya kunjungi. Buat saya belum ada yang bisa menggantikan perasaan amaze ketika melihat memandang tepat dari bawah dan merasakan kuatnya air terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu, ataupun melihat pemandangan dari salah satu puncak Gunung Seorak di Korea Selatan, bahkan saya sudah amaze melihat dome dari Singapore National Museum.

andre-hPengalaman lain yang tak terlupakan adalah ketika berada di Cukang Taneuh, Pangandaran – Jawa Tengah, ketika saya melakukan body rafting dimana membawa saya melewati keindahan tetesan air dari sela-sela bebatuan yang membentuk hujan abadi. Pengalaman di Cukang Taneuh atau biasa disebut orang Green Canyon juga membentuk mental untuk menyelesaikan perjalanan sampai akhir meskipun badan sudah lelah harus naik turun bebatuan yang besar-besar ataupun harus melompat dari ketinggian 3-6 meter ke aliran sungai dibawah. Tetapi semuanya itu buat saya membuat hidup menjadi lebih hidup. Hidup menjadi punya cerita bukan hanya hidup monoton yang tidak ber’bumbu’. Hidup yang menjadikan kita bersyukur atas alam, kebersamaan bersama keluarga atau teman dan tentunya mengingatkan kita kepada Pencipta kita.

Dolan juga berarti belajar tentang budaya dari tempat yang kita kunjungi. Seperti ketika mengunjungi negara maju seperti Singapura atau Korea, segala hal harus teratur dan serba cepat. Jika kita lihat di negara-negara maju di Asia, orang cenderung berjalan dengan cepat. Mungkin waktu adalah segalanya buat mereka. Waktu adalah biaya untuk terus maju dan berkembang. Sehingga siapapun yang menjadi penghalang waktu harus disisihkan seperti yang saya lihat misal di Seoul – Korea Selatan, para pengemis harus disisihkan dari kehidupan kota dari pagi sampai jelang malam. Namun, ketika hari sudah malam dimana orang sudah kembali ke rumah masing-masing barulah pengemis diijinkan untuk memunculkan batang hidungnya di lorong stasiun bawah tanah dan di taman dekat pintu keluar stasiun.

Hal ini sangat bertolak belakang jika kita melihat masyarakat di kota kecil seperti Belitung. Kehidupan cenderung lambat dan masyarakat seakan menikmati hidup bersama kawan untuk ‘kongkow’ di warung kopi dan menyeruput kopi pekat hangat sambil gelak tawa memecah pembicaraan. Namun, inilah yang menarik untuk dilihat ketika kita memutuskan untuk melihat dunia kita ini. Banyak hal yang kita bisa pelajari, berguna dan bahkan menjadi kisah yang bisa kita bagikan kepada teman dan keluarga.

Travelling juga berarti merasakan makanan lokal yang buat kita kadang menjadi hal baru. Makanan baru tentunya bisa jadi enak atau bisa jadi ngga enak buat lidah kita. Tapi baik itu enak maupun ngga akan tetap menjadi cerita buat kita kok. Saya pernah merasakan makanan yang enak banget di Korea Selatan ketika makan Chicken Barbeque di Nami Island, tapi juga ga doyan dengan yang namanya Kimchi ala Korea Selatan. Kita juga bisa melihat untuk masakan yang namanya sama namun rasanya bisa jauh beda seperti Bak Kut Teh ala Genting Highlands yang penuh rempah sampai saya ga doyan menyantapnya akan jauh berbeda dengan Song Fa Bak Kut Teh ala Singapura yang rasanya enak banget.

Pergi ketempat baru juga membuat kita sadar bahwa kadang wisata yang dijual kadang aneh seperti ketika di Pattaya kita bisa melihat dimana seks dijadikan komoditi wisata andalan disana. Namun, itu menjadi hal yang luar biasa dan baru buat saya untuk menambah pengetahuan dan pembelajaran akan pekerjaan yang cukup aneh bagi saya untuk menjadikan diri sendiri objek seksual. Namun, itulah realitas kehidupan.

Travelling memang menarik, kadang aneh namun pasti berkesan. So, jangan hanya diam, Lihat Duniamu!

[Backpack Series – Part 1] Lihat Duniamu!
Tagged on:

One thought on “[Backpack Series – Part 1] Lihat Duniamu!

  • October 28, 2015 at 3:51 pm
    Permalink

    ditunggu cerita selanjutnya tentang kebudayaan asing yang kamu kunjungi mas 🙂

    Reply

Leave Your Commentary

Translate »