Tag Archives: Klaten

Tan Djoe Lan – Kasih Untuk Dicinta

Baru kali ini aku melihat sebuah tempat yang sungguh mempesona dari kejauhan. Terasa asing karena di dunia yang aku pijak belum pernah rasanya aku melihat langit yang berwarna-warni dan berubah-ubah dengan indahnya. Beberapa bangunan disana nampak terang dengan jalanan sebening kristal tapi dari dalamnya warna-warna muncul silih berganti.

Selama hidup aku melihat berbagai kota di negaraku dan pernah juga aku pulang ke tanah leluhur tapi belum pernah aku menyaksikan pemandangan yang begitu indah dari sini. Dari kejauhan tempat aku berbaring. Sesaat hilang rasa perih sakit di dada ini, namun aku… masih disini. Ya masih di kamar ini bersama yang aku cinta, anak-anak dan cucu-cucu yang silih berganti menjenguk. Terkadang terlepas ingatan nama-nama tapi aku mengenal mereka karena mereka darah dagingku.

Untuk kesekian kalinya aku melihat sosok sosok dari masa lalu juga datang menjenguk. Kenangan saat mereka masih bersamaku meski akhirnya aku tak tahu bagaimana mereka bisa hadir kembali di kamar ini. Ah, mungkin memang mereka habis selesai pergi jauh dan kini kembali. Tapi aku senang melihat mereka kembali.

“Aduh!”, kembali rasa perih itu menyergap dada ini. Perih terasa seakan jarum-jarum kecil menghujam ke dadaku tapi juga kadang aku merasa dada ini seperti terbakar. Aku hanya bisa mengerang tanpa bisa berbuat banyak kepada diriku sendiri.

Aku memang lupa sudah berapa lama aku terbaring di kamar ini. Tak bisa berjalan untuk pergi ke tempat yang aku suka. Teringat dulu aku suka keluar rumah menyapa orang-orang yang ku kenal di kota ini. Dan tak jarang pula mereka datang ke rumah untuk berbincang. Tapi kini aku lebih sering melihat wajah-wajah muram dan sedih dari mereka yang ku kenal ketika masuk ke kamar ini.

“Mana anakku?”, pertanyaan yang belakangan terucap dariku. Tak tahu kenapa belakangan aku suka merasa rindu untuk mereka berada di sampingku ketika aku berada di kamar ini. Mungkin aku tak ingin merasa sendirian ketika kembali aku melihat tempat yang aku ceritakan sebelumnya.

Kali ini aku melihat dikejauhan ada sebuah gerbang besar dan ada dua orang melambaikan tangannya ke arahku. Sempat aku terdiam dan mencoba mengerti dimana aku berada sekarang karena kali ini aku dapat merasakan kakiku berpijak di jalanan yang begitu indah. Jalanan kristal bening dengan warna warna indah yang memancar dari dalam. Aku pun berjalan.

Kini gerbang itu terasa lebih dekat dan kembali aku memandang ke dua orang yang melambaikan tangan serasa memanggil aku untuk kesana. Aku melihat ke sekeliling dan menyaksikan besarnya tempat itu. Tembok kokoh memanjang sampai ke ujung yang tak nampak lagi olehku. Dan semakin ku berjalan, semakin rasanya aku mengenal salah satu dari orang yang berada di gerbang itu.

Aku memicingkan mataku dan aku melihat sosok yang aku kenal. Dia adalah suamiku yang rasanya baru kemarin dia pergi dan tak kembali. Kini aku mendapatkannya lagi. Dia kini terlihat begitu tampan dan lebih muda seakan kembali ke masa ketika kami menikah dulu. Namun, sosok lain terasa tak asing meskipun aku belum pernah bertemu dengannya.

Kupeluk dia untuk melepas rinduku. Kulihat senyumannya yang cukup lama ku tidak melihatnya. Rasa bahagia yang kurasa dapt bertemu dengannya kembali. “Tapi dimana anak-anakku?”

Kulihat ke belakang, anak-anakku berkumpul disekeliling ragaku. Aku sudah tidur. Tidur panjang untuk menantikan mereka bersama suamiku. Aku baru tersadar kini aku sudah sembuh. Tak ada rasa sakit menyergap di dada ini.

Kini aku sadar, aku sudah tidak berada di dunia lagi. Aku bersama Penciptaku dan orang-orang dari masa lalu. Ingin rasanya aku memeluk anak-anakku untuk terakhir kali dan berpesan ke mereka untuk terus saling mencintai dan peduli. Namun, ternyata sudah tidak bisa kali ini. Mungkin nanti ku akan berbisik dalam lelap mimpi mereka.

— ditulis untuk seorang wanita yang kuat dan luar biasa, Tan Djoe Lan / Harjati. Seorang yang membesarkan 8 anak tanpa pembantu dan merawat cucu-cucu dengan kasih sayang.

Seorang nenek yang merawatku dari kecil ketika aku hampir seminggu sekali pergi ke Jogja dari Klaten untuk memeriksakan keadaanku karena lahir dalam kondisi pre-klamsia.

Thank you Mama Juma — begitu aku menyebutnya dulu. Makasih Emak Djoe Lan, I love you.

Toko Kopi “Nggone Mbahmu”

Mas Pur biasa lelaki empunya toko kopi Nggone Mbahmu, Klaten ini disapa oleh para pengunjung. Bermula dari kecintaannya terhadap kota Klaten dan kopi maka mas Pur mendirikan toko kopi ini pada 21 Juni 2017 ini. Belum lama memang tapi tempat ini sudah mencuri perhatian orang banyak terlebih ketika melihat akun instagram “nggonembahmu”. Tak hanya toko kopi yang oleh anak sekarang disebut instagramable tapi juga memang komitmen mas Pur yang mengusung konsep coffee roastery berhasil memikat banyak orang. Tak hanya para penikmat cafe tapi juga para pecinta kopi dimanjakan di tempat ini pastinya.

Aneka jenis biji kopi dari nusantara di jual di Nggone Mbahmu sebagai visi dari pemilik untuk mengangkat pamor kopi lokal nusantara tak hanya di dalam negeri tapi juga sampai ke luar negeri. Pembelinya pun tak hanya dari dalam negeri saja, kopi Nggonembahmu telah dinikmati oleh warga yang tinggal di luar negeri. Tak pelak rasanya visi mas Pur untuk mengangkat kopi Nggone Mbahmu sebagai salah satu oleh-oleh khas kota Klaten ini sudah di jalur yang pas.

Saya yang dulu tumbuh di kota Klaten ini tentu penasaran seperti apa sih toko kopi Nggone Mbahmu ini. Dan beruntung buat saya waktu berkunjung ke Nggonembahmu bisa ketemu ama ‘simbah’; sebutan lain dari mas Pur sejalan dengan nama tempatnya. Simbah akhirnya bercerita bagaimana awalnya toko kopi ini diberi nama Nggonembahmu. “Supaya kedengeran dekat aja”, katanya. Karena buat orang Indonesia apalagi suku Jawa kata “Nggonembahmu” memang terdengar familiar akan kerinduan untuk pulang ke rumah “embah” (bahasa: kakek/nenek). “Nggon” sendiri artinya barang/tempat yang dimiliki; jadi Nggonembahmu bisa diartikan milik kakek/nenek Anda.

Sedangkan untuk logo Nggonembahmu sendiri sebenarnya berasal dari aksara jawa “Ha” dimana menurut mas Pur nama kecil dari mas Pur juga mirip pelafalannya. Dan ternyata cukup pas dengan nama Nggone Mbahmu karena huruf “Ha” terlihat mirip dengan inisial N dan M.

Sejalan dengan nama dari tempat ini, mas Pur juga mengatakan sebisa mungkin pengunjung toko kopi ini memang datang untuk menikmati kopi bersama teman atau keluarga dan bukan hanya mencari wifi yang akhirnya cuek dengan teman/keluarga atau malah tidak menikmati kopi yang ada di Nggonembahmu.

Untuk harga kopinya sendiri berkisar dari Rp. 35ribu sampai dengan Rp. 50ribuan untuk sekantong biji kopi yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Sedangkan bagi pengunjung yang ingin menyeduh kopi di tempat, beberapa olahan kopi ditawarkan dari harga Rp. 20ribu-Rp. 25ribu.

Untuk kali ini saya pun mencicip manual brew kopi asli Klaten yang berasal dari kopi yang dihasilkan warga di daerah Deles. Meskipun jenis kopinya adalah kopi Arabica tapi untuk kopi asli Klaten ini tidak terlalu asam dan juga tidak terlalu pahit. Selain saya mencicip kopi manual brew, saya pun mencoba menu yang diberi nama KoPaSus (Kopi Pake Susu) dimana olahan kopi yang ini lebih terasa taste susunya. Sedangkan menu cukup unik yang saya coba lagi adalah kopi KoKo (Kopi Korma) yang baru pertama kali jenis olahan kopi ini saya coba. Dengan potongan-potongan korma yang di blend dengan campuran kopi dan gula maka menu ini memang cukup unik dari sisi rasa.

Sepanjang saya menikmati olahan kopi ini, mas Pur dan keluarga berbincang hangat dengan pengunjungnya. Sungguh jadi pengalaman ngopi yang berbeda dapat berbincang hangat dengan pemilik toko kopi. Tidak hanya berbincang tentang kopi tapi juga tentang hal lain yang makin membuat kangen pengunjungnya untuk balik lagi.

Saya melihat Nggonembahmu adalah pencurahan kecintaan mas Pur dan keluarga atas kota Klaten, kopi nusantara dan juga hidup bermasyarakat yang diberikan Tuhan. Semoga Nggonembahmu terus sukses dan akhirnya berhasil mewujudkan visinya untuk mengangkat kopi nusantara untuk makin dikenal oleh warganya sendiri dan juga mengangkat pamor kota Klaten.

Klaten – Kota Seribu Satu Warung Soto

Soto Sor Pelem - Soto
Soto Sor Pelem – Soto
Kota dimana saya tumbuh dan belajar akan arti hidup adalah kota Klaten. Bukan kota yang besar memang, malah cenderung adalah kota kecil dimana biasa orang-orang melewatinya begitu saja ketika bepergian dari/ke Jogja-Solo. Namun, Klaten terus berbenah untuk menjadi salah satu kota tujuan wisata. Salah satunya Klaten sekarang dikenal dengan sebutan kota 1001 warung soto.

Jika kota Manggar di Belitung sudah beberapa lama dikenal dengan kota 1001 warung kopi karena banyaknya warung kopi yang ada di sepanjang jalan kota itu, maka di Klaten memang banyak sekali pilihan warung soto yang menghidangkan masakan soto dengan ciri khasnya masing-masing.

Soto sendiri adalah makanan lokal Indonesia yang sudah banyak dikenal. Di Jawa Tengah, sebutan soto mengacu ke sup bening berisi irisan ayam dan potongan kecil daun seledri. Di beberapa tempat ada juga yang menambahkan tauge.

Salah satu warung yang saya sering kunjungi adalah Warung Soto Kembaran yang terkenal dengan aneka gorengannya yang lezat dan teh poci yang dihidangkan dengan gula batu.

Soto Kembaran - Depan
Soto Kembaran – Depan
Soto Kembaran - Gorengan
Soto Kembaran – Gorengan
Soto Kembaran - Soto
Soto Kembaran – Soto

Warung lain yang juga dikenal kebanyakan orang adalah Warung Soto Sor Pelem. Dulunya warung ini terletak dibawah pohon mangga makanya disebut Soto Sor Pelem *artinya soto dibawah pohon mangga. Disini sotonya juga enak.

Soto Sor Pelem - Inside
Soto Sor Pelem – Inside
Soto Sor Pelem - Soto
Soto Sor Pelem – Soto

Beberapa ada juga warung soto yang sudah berdiri lama seperti: Soto Widodo, Soto Mbok Giyem (dari Boyolali), Soto Pak Min *yang ada dimana-mana, meskipun…*, adapula Soto Bu Wiro yang jadi kesukaan mama saya dan banyak warung soto yang lain.

Klaten pastinya tidak boleh berhenti menggali potensi kota yang terletak ditengah-tengah antara Jogja dan Solo. Kalau pembaca sempat cobalah singgah di kota ini maka kalian pastinya bisa mencicip soto khas Klaten yang ada banyak sekali.