Baru kali ini aku melihat sebuah tempat yang sungguh mempesona dari kejauhan. Terasa asing karena di dunia yang aku pijak belum pernah rasanya aku melihat langit yang berwarna-warni dan berubah-ubah dengan indahnya. Beberapa bangunan disana nampak terang dengan jalanan sebening kristal tapi dari dalamnya warna-warna muncul silih berganti.

Selama hidup aku melihat berbagai kota di negaraku dan pernah juga aku pulang ke tanah leluhur tapi belum pernah aku menyaksikan pemandangan yang begitu indah dari sini. Dari kejauhan tempat aku berbaring. Sesaat hilang rasa perih sakit di dada ini, namun aku… masih disini. Ya masih di kamar ini bersama yang aku cinta, anak-anak dan cucu-cucu yang silih berganti menjenguk. Terkadang terlepas ingatan nama-nama tapi aku mengenal mereka karena mereka darah dagingku.

Untuk kesekian kalinya aku melihat sosok sosok dari masa lalu juga datang menjenguk. Kenangan saat mereka masih bersamaku meski akhirnya aku tak tahu bagaimana mereka bisa hadir kembali di kamar ini. Ah, mungkin memang mereka habis selesai pergi jauh dan kini kembali. Tapi aku senang melihat mereka kembali.

“Aduh!”, kembali rasa perih itu menyergap dada ini. Perih terasa seakan jarum-jarum kecil menghujam ke dadaku tapi juga kadang aku merasa dada ini seperti terbakar. Aku hanya bisa mengerang tanpa bisa berbuat banyak kepada diriku sendiri.

Aku memang lupa sudah berapa lama aku terbaring di kamar ini. Tak bisa berjalan untuk pergi ke tempat yang aku suka. Teringat dulu aku suka keluar rumah menyapa orang-orang yang ku kenal di kota ini. Dan tak jarang pula mereka datang ke rumah untuk berbincang. Tapi kini aku lebih sering melihat wajah-wajah muram dan sedih dari mereka yang ku kenal ketika masuk ke kamar ini.

“Mana anakku?”, pertanyaan yang belakangan terucap dariku. Tak tahu kenapa belakangan aku suka merasa rindu untuk mereka berada di sampingku ketika aku berada di kamar ini. Mungkin aku tak ingin merasa sendirian ketika kembali aku melihat tempat yang aku ceritakan sebelumnya.

Kali ini aku melihat dikejauhan ada sebuah gerbang besar dan ada dua orang melambaikan tangannya ke arahku. Sempat aku terdiam dan mencoba mengerti dimana aku berada sekarang karena kali ini aku dapat merasakan kakiku berpijak di jalanan yang begitu indah. Jalanan kristal bening dengan warna warna indah yang memancar dari dalam. Aku pun berjalan.

Kini gerbang itu terasa lebih dekat dan kembali aku memandang ke dua orang yang melambaikan tangan serasa memanggil aku untuk kesana. Aku melihat ke sekeliling dan menyaksikan besarnya tempat itu. Tembok kokoh memanjang sampai ke ujung yang tak nampak lagi olehku. Dan semakin ku berjalan, semakin rasanya aku mengenal salah satu dari orang yang berada di gerbang itu.

Aku memicingkan mataku dan aku melihat sosok yang aku kenal. Dia adalah suamiku yang rasanya baru kemarin dia pergi dan tak kembali. Kini aku mendapatkannya lagi. Dia kini terlihat begitu tampan dan lebih muda seakan kembali ke masa ketika kami menikah dulu. Namun, sosok lain terasa tak asing meskipun aku belum pernah bertemu dengannya.

Kupeluk dia untuk melepas rinduku. Kulihat senyumannya yang cukup lama ku tidak melihatnya. Rasa bahagia yang kurasa dapt bertemu dengannya kembali. “Tapi dimana anak-anakku?”

Kulihat ke belakang, anak-anakku berkumpul disekeliling ragaku. Aku sudah tidur. Tidur panjang untuk menantikan mereka bersama suamiku. Aku baru tersadar kini aku sudah sembuh. Tak ada rasa sakit menyergap di dada ini.

Kini aku sadar, aku sudah tidak berada di dunia lagi. Aku bersama Penciptaku dan orang-orang dari masa lalu. Ingin rasanya aku memeluk anak-anakku untuk terakhir kali dan berpesan ke mereka untuk terus saling mencintai dan peduli. Namun, ternyata sudah tidak bisa kali ini. Mungkin nanti ku akan berbisik dalam lelap mimpi mereka.

— ditulis untuk seorang wanita yang kuat dan luar biasa, Tan Djoe Lan / Harjati. Seorang yang membesarkan 8 anak tanpa pembantu dan merawat cucu-cucu dengan kasih sayang.

Seorang nenek yang merawatku dari kecil ketika aku hampir seminggu sekali pergi ke Jogja dari Klaten untuk memeriksakan keadaanku karena lahir dalam kondisi pre-klamsia.

Thank you Mama Juma — begitu aku menyebutnya dulu. Makasih Emak Djoe Lan, I love you.

Tan Djoe Lan – Kasih Untuk Dicinta
Tagged on:                 

Leave Your Commentary

Translate »